Kaltim Diprediksi Minim Hujan hingga 20 September, Paser Catat 49 Hari Tanpa Hujan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
11 Sep 2026 19:16
2 menit membaca

SAMARINDA – Musim kemarau masih membayangi sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Kaltim masih akan mengalami curah hujan rendah pada periode 11–20 September 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan curah hujan di sebagian besar wilayah Kaltim pada dasarian kedua September diprediksi berada dalam kategori rendah.

“Secara deterministik, curah hujan pada Dasarian II September 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Timur diprediksi akan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–20 mm,” ungkap Riza dalam keterangan resminya, Jumat (11/9/2026).

Selain rendahnya curah hujan, sifat hujan pada periode tersebut juga diprediksi berada pada kategori bawah normal di seluruh wilayah Kaltim.

Kondisi ini menjadi perhatian mengingat sejumlah daerah telah mengalami periode tanpa hujan dalam waktu cukup panjang.

BMKG mencatat kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kaltim cukup beragam. Sebagian wilayah telah mengalami HTH dengan kategori sangat panjang, yakni selama 31–60 hari.

Namun, terdapat pula wilayah yang mulai mengalami hujan kembali sehingga masuk kategori HTH sangat pendek dengan durasi hanya 1–5 hari.

Wilayah dengan durasi HTH terpanjang tercatat di Kabupaten Paser. Tepatnya di Batu Enggau, masyarakat telah menghadapi 49 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Kaltim. Sejumlah daerah masih menghadapi periode kering yang cukup panjang, sementara wilayah lainnya mulai memperoleh hujan.

Dengan prakiraan curah hujan yang masih rendah hingga 20 September, masyarakat di wilayah yang mengalami HTH panjang diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau.

Kondisi lahan yang kering juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah.

BMKG pun mengingatkan pentingnya pemantauan kondisi cuaca secara berkala, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan serta wilayah yang tengah menghadapi periode tanpa hujan berkepanjangan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }