ilustrasiBONTANG – Sebanyak 36 siswa dan guru SMP Vidatra Bontang mengalami keluhan mual hingga muntah setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (10/8/2026).
Dari jumlah tersebut, 21 orang mendapat penanganan medis di RS LNG Badak, sementara 15 lainnya menjalani observasi dan penanganan di lingkungan sekolah.
Keluhan mulai muncul setelah siswa dan guru mengonsumsi menu MBG sekitar pukul 09.50 Wita. Paket makanan yang dibagikan terdiri atas nasi gurih, ayam suwir, tumis wortel, oseng tahu, dan buah jeruk.
Saat proses belajar mengajar berlangsung, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka. Beberapa mengalami mual hingga muntah sehingga pihak sekolah mengambil langkah untuk memulangkan siswa dan membawa sebagian lainnya ke fasilitas kesehatan.
Kepala SMP Vidatra, Solikhin, membenarkan adanya siswa dan guru yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
“Benar, ada yang dibawa ke RS LNG dan ada yang dipulangkan,” ujarnya, dikutip dari Bontang Post.
Solikhin menyebut kejadian tersebut merupakan kasus pertama yang terjadi di sekolah sejak program MBG mulai berjalan.
“Ini kejadian pertama kali,” katanya.
Informasi yang dihimpun dari lingkungan sekolah menyebutkan, sejumlah siswa mulai dipulangkan sekitar pukul 13.00 Wita setelah mengalami mual dan muntah ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Salah seorang siswa mengaku mulai merasakan mual setelah menyantap sebagian makanan yang dibagikan.
“Banyak yang mual-mual. Sekitar puluhan tadi dipulangkan. Saya makan nasi dan ayamnya. Tahu saya makan satu. Sayurnya tidak saya makan,” ujarnya.
Makanan MBG yang dibagikan kepada siswa SMP Vidatra diketahui disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5.
Hingga Senin sore, belum diketahui secara pasti penyebab munculnya keluhan kesehatan yang dialami puluhan siswa dan guru tersebut.
Belum ada keterangan resmi terkait hasil pemeriksaan medis maupun hasil evaluasi terhadap makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat.
Karena itu, dugaan bahwa keluhan tersebut berkaitan langsung dengan makanan MBG masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan tidak dapat disimpulkan sebelum hasil investigasi serta pemeriksaan kesehatan tersedia.
Kejadian ini menambah perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, khususnya di tingkat satuan pendidikan.
Evaluasi terhadap proses penyediaan, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi makanan menjadi penting untuk memastikan seluruh makanan yang diterima siswa memenuhi standar keamanan dan kualitas yang ditetapkan.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab keluhan serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi. (*)
Tidak ada komentar