Kepesertaan JKN di Bontang Tembus 99,91 Persen, BPJS Soroti Beban Penyakit Katastropik

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
14 Jun 2026 20:48
2 menit membaca

BONTANG – Cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kota Bontang hampir menyentuh angka sempurna. Dari total 194.606 penduduk, sebanyak 194.437 jiwa telah terdaftar sebagai peserta JKN atau setara 99,91 persen.

Data tersebut dipaparkan Kepala Bagian SDM, Umum dan Komunikasi (SDMUK) BPJS Kesehatan Cabang Samarinda, Samiaji, saat berdiskusi bersama awak media di The Djoempa Cafe and Eatery PKT Bontang, Jumat (12/6/2026).

Selain mengungkap tingginya cakupan kepesertaan, BPJS Kesehatan juga mencatat peningkatan signifikan dalam pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat. Selama periode 2023 hingga April 2025, total biaya pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS Kesehatan Cabang Samarinda mencapai Rp6,9 triliun.

Menurut Samiaji, nilai pembiayaan tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2023, biaya pelayanan kesehatan tercatat sekitar Rp1,8 triliun. Setahun kemudian naik menjadi Rp2,6 triliun, sementara hingga April 2025 telah mencapai Rp2,1 triliun.

“Jumlah itu menunjukkan tingginya akses dan pemanfaatan layanan kesehatan oleh peserta JKN di wilayah kerja BPJS Kesehatan Samarinda,” katanya.

Tidak hanya dari sisi pembiayaan, jumlah layanan yang dimanfaatkan peserta juga terus bertambah. Hingga April 2025, total utilisasi layanan kesehatan tercatat mencapai sekitar 5,4 juta layanan.

Di balik tingginya penggunaan layanan kesehatan tersebut, penyakit katastropik masih menjadi tantangan utama pembiayaan program. BPJS Kesehatan mencatat sekitar 27,6 persen dari total biaya pelayanan kesehatan digunakan untuk menangani sembilan jenis penyakit katastropik.

Nilainya mencapai lebih dari Rp1,5 triliun sepanjang periode 2023 hingga April 2025.

“Penyakit jantung masih menjadi penyumbang biaya terbesar dibandingkan penyakit katastropik lainnya,” ujar Samiaji.

Selain penyakit jantung, pembiayaan juga digunakan untuk penanganan kanker, stroke, gagal ginjal, hemofilia, leukemia, dan thalassemia.

Sementara itu, tingginya kepesertaan JKN di Kota Bontang dinilai sebagai indikator keberhasilan perluasan perlindungan kesehatan bagi masyarakat. Tingkat keaktifan peserta di daerah ini juga mencapai 95,95 persen.

Sebagai kota industri dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi, Bontang memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang beragam, terutama yang berkaitan dengan kesehatan pekerja dan masyarakat perkotaan.

Untuk mendukung pelayanan tersebut, saat ini tersedia 22 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan lima fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Samiaji menegaskan, keberhasilan Program JKN tidak hanya bergantung pada BPJS Kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kolaborasi yang kuat sangat dibutuhkan agar kualitas layanan tetap terjaga dan masyarakat dapat terus memperoleh akses kesehatan yang optimal,” tutupnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }