Musim Hujan Kaltim Mulai Bertahap, Puncaknya Diprediksi Desember 2026

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
5 Nov 2026 19:48
3 menit membaca

SAMARINDA – Sebagian besar wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada Dasarian II November 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026, sehingga pemerintah dan masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menjelaskan bahwa awal musim hujan di Kaltim berlangsung tidak serentak. Sejumlah wilayah di bagian utara hingga barat laut bahkan telah lebih dahulu memasuki musim hujan sejak sekitar 3 Oktober 2026.

Adapun wilayah lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda masuk musim hujan pada Dasarian I November. Daerah tersebut meliputi sebagian wilayah utara Kutai Kartanegara, sebagian kecil Kabupaten Berau, serta Kota Balikpapan.

Khusus Balikpapan, tanda peralihan musim terlihat dari aktivitas hujan yang terjadi selama sepekan terakhir. Hujan dengan intensitas ringan juga mulai disertai suara guntur pada pagi hari.

“Terlihat dari aktivitas hujan yang terjadi selama sepekan terakhir. Bahkan, pada pagi hari mulai terdengar suara guntur disertai hujan dengan intensitas ringan,” ungkap Djoko saat menjadi pembicara dalam kegiatan terkait kesiapsiagaan bencana banjir di Kaltim, Kamis (5/11/2026).

Meski beberapa daerah telah lebih dahulu diguyur hujan, sebagian besar wilayah Kaltim diprakirakan baru memasuki musim hujan pada pertengahan November. Musim hujan diperkirakan berakhir pada April hingga Mei 2027.

Djoko menyebutkan, durasi musim hujan tahun ini diperkirakan relatif lebih pendek. Namun, sifat hujan secara umum masih berada dalam kategori normal berdasarkan rata-rata curah hujan selama 30 tahun.

Kondisi tersebut memiliki peluang sekaligus risiko yang perlu diperhatikan. Curah hujan yang cukup besar dalam periode relatif singkat dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku. Karena itu, pemerintah dan instansi terkait didorong mengoptimalkan penampungan air melalui pembangunan embung maupun fasilitas penyimpanan lainnya.

Di sisi lain, masa peralihan menuju musim hujan berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Banjir secara tiba-tiba dan angin kencang menjadi sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi sejak dini.

Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir juga diminta mewaspadai potensi banjir rob selama November. Fenomena bulan purnama dapat meningkatkan pasang air laut. Risiko genangan di wilayah pesisir berpotensi semakin besar apabila kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan hujan lebat.

Memasuki Desember, intensitas dan frekuensi hujan diperkirakan meningkat serta berpeluang terjadi lebih merata di seluruh wilayah Kaltim. Selain banjir dan angin kencang, tanah longsor juga menjadi ancaman yang perlu mendapat perhatian, terutama di kawasan lereng.

Djoko menjelaskan, pada awal musim hujan, air belum tentu terserap secara optimal hingga lapisan tanah bagian bawah. Akibatnya, daya ikat tanah belum cukup kuat untuk menopang beban di bagian atas, sehingga hujan berintensitas tinggi dapat memicu pergeseran tanah.

“Pada masa peralihan, lapisan tanah bagian bawah belum tentu kuat mengikat karena air belum terserap secara optimal. Sehingga beban di bagian atas bisa menggeser atau menggoyangkan tanah dan berpotensi menyebabkan longsor. Ini yang harus diwaspadai,” jelasnya.

Dengan awal musim hujan yang berlangsung bertahap dan puncak hujan yang diprediksi terjadi pada Desember, kesiapsiagaan menjadi hal penting. Optimalisasi penampungan air perlu berjalan beriringan dengan langkah mitigasi bencana agar potensi hujan dapat dimanfaatkan sekaligus risiko yang ditimbulkannya bisa ditekan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }