Pemkot Bontang Minta Pertalite Ditambah, Pertamina Sebut 11 Ribu Liter per SPBU Masih Aman

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
12 Sep 2026 14:40
3 menit membaca

BONTANG – Antrean kendaraan kembali terlihat di sejumlah SPBU di Kota Bontang. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Bontang meminta adanya penambahan pasokan Pertalite untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat yang dinilai terus meningkat.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan persoalan antrean tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengatur pola distribusi. Menurutnya, ketersediaan pasokan juga perlu disesuaikan dengan tingkat konsumsi di lapangan.

“Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan pengaturan distribusi yang lebih optimal agar ketersediaan Pertalite tetap terjaga hingga penghujung tahun,” kata Neni, Jumat (11/9/2026).

Sebagai salah satu opsi, Pemkot Bontang mengusulkan agar enam SPBU yang beroperasi di wilayah tersebut mendapat tambahan pasokan hingga 16 ribu liter Pertalite per hari.

Jika usulan itu diterapkan, total distribusi yang dibutuhkan mencapai sekitar 96 ribu liter per hari untuk enam SPBU.

“Kalau skemanya dibuat begitu, total distribusi yang dibutuhkan mencapai kurang lebih 96 ribu liter per hari,” ujarnya.

Neni menilai tambahan pasokan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurai antrean yang kembali muncul dalam beberapa pekan terakhir. Namun, ia mengakui kebijakan tersebut harus dihitung secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan baru pada ketersediaan kuota hingga akhir tahun.

“Jangan sampai pasokan yang sudah ditambah kembali diturunkan. Kalau perhitungannya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kami akan mendorong agar ada tambahan kuota,” tegasnya.

Pemkot Bontang kemudian meminta Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA) melakukan kajian menyeluruh mengenai kebutuhan Pertalite.

Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan apakah kuota yang tersedia saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat hingga Desember 2026.

“Perlu tahu apakah kuota yang tersedia ini masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun,” kata Neni.

Jika hasil kajian menunjukkan kebutuhan masyarakat lebih besar dibanding alokasi yang tersedia, Pemkot Bontang menyatakan siap mengusulkan tambahan kuota kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Hitungan Pemkot dan Pertamina Berbeda

Di tengah dorongan penambahan pasokan, PT Pertamina Patra Niaga memiliki perhitungan berbeda.

Area Manager Retail Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara PT Pertamina Patra Niaga, Narotama Aulia Fajri, mengatakan penyaluran Pertalite saat ini disusun berdasarkan proyeksi kebutuhan hingga akhir 2026 dengan mempertimbangkan kuota yang tersedia.

Menurut perhitungan Pertamina, alokasi sekitar 11 ribu liter per SPBU per hari masih berada dalam batas aman untuk menjaga stok hingga penghujung tahun.

“Untuk kondisi normal, kami menghitung kebutuhan sekitar 11 ribu liter per SPBU setiap hari. Dengan alokasi segitu, stok diproyeksikan tetap mencukupi sampai akhir 2026,” ujar Narotama.

Perbedaan angka tersebut kini menjadi persoalan yang harus dicari titik temunya.

Pemkot Bontang melihat antrean sebagai indikasi tingginya kebutuhan masyarakat di lapangan. Sementara Pertamina harus memastikan distribusi tidak membuat kuota yang tersedia habis sebelum periode penyaluran berakhir.

Dengan demikian, persoalan Pertalite di Bontang bukan sekadar soal menambah pasokan. Pemerintah daerah harus memastikan kebutuhan riil masyarakat, pola konsumsi, serta sisa kuota hingga akhir tahun berada dalam satu perhitungan yang sama.

Jika kebutuhan memang berada di atas alokasi saat ini, tambahan kuota menjadi opsi yang perlu diperjuangkan. Namun jika tidak, penambahan distribusi berlebihan justru berisiko mempercepat habisnya kuota sebelum akhir tahun.

Pemkot Bontang kini menunggu hasil kajian kebutuhan tersebut sebagai dasar menentukan langkah selanjutnya terkait pasokan Pertalite. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }