Kabut Asap Mengintai, Kasus Gangguan Pernapasan di Balikpapan Naik 19,8 Persen

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
1 Sep 2026 11:09
3 menit membaca

BALIKPAPAN – Masyarakat Kota Balikpapan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan di tengah musim kemarau dan mulai munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mencatat sejumlah kasus penyakit yang berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan mengalami peningkatan sepanjang Agustus 2026.

Kenaikan tertinggi terjadi pada kasus acute upper respiratory infection, unspecified (J06.9) yang meningkat hingga 19,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Dinkes Kota Balikpapan, Alwiati, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius masyarakat, terutama di tengah potensi menurunnya kualitas udara akibat paparan asap karhutla.

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama saat terjadi kabut asap akibat karhutla. Jangan menganggap sepele paparan asap karena dapat mengganggu saluran pernapasan,” kata Alwiati.

Berdasarkan data Dinkes Balikpapan, kasus acute nasopharyngitis atau common cold (J00) meningkat dari 5.861 kasus pada Juli menjadi 6.280 kasus pada Agustus 2026.

Artinya, terdapat tambahan 419 kasus atau mengalami kenaikan sekitar 7,2 persen.

Peningkatan juga terjadi pada kasus acute pharyngitis (J02). Pada Juli tercatat sebanyak 1.714 kasus, kemudian meningkat menjadi 1.966 kasus pada Agustus.

Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebanyak 252 kasus atau sekitar 14,7 persen.

Sementara peningkatan tertinggi tercatat pada kasus acute upper respiratory infection, unspecified (J06.9).

Kasusnya meningkat dari 1.136 kasus pada Juli menjadi 1.361 kasus pada Agustus 2026.

Dengan demikian, terjadi penambahan sebanyak 225 kasus atau sekitar 19,8 persen dalam kurun waktu satu bulan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap akibat karhutla berpotensi memperburuk gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

Alwiati menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Paparan asap dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat hingga gangguan pernapasan.

Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi kualitas udara mulai menurun.

“Kalau tidak ada keperluan yang penting, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker dengan baik untuk mengurangi paparan asap,” ujarnya.

Selain membatasi aktivitas di luar ruangan, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, menjaga asupan makanan bergizi, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Kebersihan tangan juga perlu diperhatikan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau memanfaatkan *hand sanitizer*, khususnya setelah melakukan aktivitas di luar rumah.

Jangan Tunggu Kondisi Memburuk

Dinkes Balikpapan mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila mulai mengalami gejala gangguan saluran pernapasan.

Warga yang mengalami keluhan seperti batuk, sakit tenggorokan, pilek, atau gangguan pernapasan diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

“Jika sudah mulai muncul keluhan seperti batuk, sakit tenggorokan atau gangguan pernapasan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat,” kata Alwiati.

Menurutnya, peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan sepanjang Agustus harus menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan, terutama selama musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Dinkes Balikpapan juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran dan memperburuk kualitas udara.

“Pencegahan bukan hanya dilakukan ketika gejala sudah muncul. Masyarakat juga perlu ikut menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran maupun memperburuk kualitas udara,” tutur Alwiati.

Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap, menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan. Kewaspadaan masyarakat juga menjadi bagian penting untuk mencegah dampak yang lebih luas, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan warga Balikpapan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }