Pemkot Balikpapan Perluas Akses Air Bersih di Kariangau Lewat Program WASH

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
5 Agu 2026 17:11
4 menit membaca

Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memperkuat upaya peningkatan akses air bersih dan sanitasi melalui kolaborasi dengan Posco International, PT AGPA Refinery Complex, dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Agreement Signing Ceremony Indonesia Kariangau WASH Project di Aula Balai Kota Balikpapan, Rabu (5/8/2026).

Program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) ini difokuskan untuk menghadirkan akses air bersih yang lebih layak bagi masyarakat di Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat. Selain itu, program juga bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan sekaligus mendukung proses belajar mengajar di sekolah.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan Irfan Taufik, Kepala Dinas Kesehatan Alwiati, Camat Balikpapan Barat Irfan Dahri, Executive Director Yayasan Gugah Nurani Indonesia Febrina Fransisca Sianturi, serta President Director PT AGPA Refinery Complex Sang Real Kim.

Prosesi tersebut turut disaksikan Chief Executive Officer (CEO) Posco International Kye In Lee dan Penjabat Sekretaris Daerah Kota Balikpapan Agus Budi Prasetyo yang mewakili Wali Kota Balikpapan, Dr. H. Rahmad Mas’ud.

Dalam sambutan Wali Kota yang dibacakan Agus Budi Prasetyo, disampaikan bahwa Balikpapan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) masih menghadapi tantangan penyediaan air bersih, terutama di kawasan pesisir yang terdampak intrusi air laut dan keterbatasan infrastruktur.

“Persoalan ini tidak hanya memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kualitas pembelajaran anak-anak. Karena itu kami mengapresiasi Posco International, PT AGPA Refinery Complex, dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia yang menghadirkan solusi melalui program ini,” ujarnya.

Agus menilai kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat menjadi contoh nyata pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Ia menjelaskan, program WASH memiliki empat fokus utama. Pertama, pembangunan dan peningkatan infrastruktur air bersih melalui sistem filtrasi serta penyediaan water purifier siap minum di SMP Negeri 16 dan SMP Negeri 20 Balikpapan Barat yang akan dimanfaatkan lebih dari 950 siswa.

Kedua, pembangunan lima sumur bor lengkap dengan jaringan distribusi air bersih yang akan melayani sekitar 40 kepala keluarga di kawasan yang selama ini mengalami keterbatasan akses air.

Ketiga, pembentukan lima Komite Pengelola Air (KPA) berbasis masyarakat agar fasilitas yang dibangun dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.

Keempat, pelaksanaan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta sanitasi kepada masyarakat dan warga sekolah guna membangun budaya hidup sehat.

“Saya optimistis program ini memberikan manfaat jangka panjang. Seluruh perangkat daerah juga kami minta mengawal pelaksanaannya agar berjalan sesuai rencana dan tetap berkelanjutan,” kata Agus.

President Director PT AGPA Refinery Complex, Sang Real Kim, menyampaikan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial sekaligus tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Kami percaya pertumbuhan perusahaan harus berjalan seiring dengan pertumbuhan masyarakat. Karena itu kami ingin menghadirkan manfaat nyata melalui penyediaan akses air bersih yang aman bagi masyarakat di Kalimantan,” ujarnya.

Kim mengungkapkan, sebelumnya perusahaan juga telah mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui pembangunan fasilitas belajar dan penguatan kapasitas guru berbasis teknologi informasi.

“Pengalaman tersebut mendorong kami memperluas kontribusi di bidang kesehatan lingkungan dan penyediaan air bersih melalui program WASH,” tambahnya.

Sementara itu, Executive Director Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Febrina Fransisca Sianturi, mengatakan persoalan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan air bersih dan sanitasi yang memadai.

“Kami melihat bahwa ketika sekolah tidak memiliki akses air bersih yang baik, kebersihan sulit dijaga, perilaku hidup bersih tidak optimal, dan pada akhirnya berdampak pada kesehatan serta proses belajar anak-anak,” jelasnya.

Menurut Febrina, program tersebut tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membentuk sistem pengelolaan yang memungkinkan masyarakat mengoperasikan fasilitas secara mandiri setelah program selesai.

“Bukan hanya membangun sarana, kami juga membentuk kelompok pengelola air di masyarakat serta memberikan edukasi mengenai sanitasi dan perilaku hidup bersih sehingga manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Program Indonesia Kariangau WASH Project dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2028, dengan fokus pada peningkatan akses air bersih, sanitasi, edukasi kesehatan, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola fasilitas secara berkelanjutan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }