
BALIKPAPAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan di Kalimantan Timur semakin menjadi perhatian di tengah puncak musim kemarau.
Kabupaten Paser bahkan menjadi satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kering sebagai langkah menghadapi ancaman Karhutla dan kekeringan.
Status tersebut ditetapkan Pemerintah Kabupaten Paser sejak 24 Agustus 2026.
Di saat bersamaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mencatat sebanyak 14.795 titik panas atau hotspot terdeteksi di berbagai wilayah Kaltim selama periode 1 hingga 26 Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan penetapan status tanggap darurat merupakan bentuk respons pemerintah daerah terhadap kondisi dan kebutuhan penanganan di wilayah masing-masing.
“Bukan soal seberapa parah, tetapi bagaimana respons teman-teman di Kabupaten Paser untuk menyatakan bahwa kondisi itu perlu dilakukan penanganan tanggap darurat,” kata Buyung, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, sebagian besar daerah lain di Kalimantan Timur masih berada dalam status siaga darurat.
Kabupaten Berau, misalnya, masih berstatus Siaga Darurat Karhutla dan saat ini tengah memproses peningkatan status menjadi tanggap darurat.
Sementara Penajam Paser Utara (PPU), Berau, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu masih menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan.
Adapun Kota Samarinda telah menetapkan status tanggap darurat untuk menghadapi bencana kekeringan.
“Yang lainnya semuanya masih siaga,” ujar Buyung.
Secara provinsi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur hingga saat ini masih mempertahankan status siaga terhadap ancaman Karhutla.
14.795 Hotspot Terpantau
Di tengah kondisi kemarau, BPBD Kaltim terus memperkuat pemantauan terhadap potensi kebakaran.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim periode 1–26 Agustus 2026, tercatat sebanyak 14.795 hotspot tersebar di sejumlah wilayah.
Kabupaten Berau menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, mencapai 6.004 titik.
Posisi berikutnya ditempati Kutai Timur dengan 3.003 titik, Kutai Kartanegara 2.426 titik, serta Kabupaten Paser sebanyak 1.934 titik.
Dari total tersebut, sebanyak 820 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi dan menjadi perhatian serius tim gabungan.
“Dari total tersebut, sebanyak 820 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi yang menjadi fokus pemadaman tim gabungan,” kata Buyung.
Namun, ia menegaskan tingginya jumlah hotspot tidak serta-merta menunjukkan seluruh titik tersebut merupakan kebakaran aktif.
Menurutnya, titik panas dapat muncul berulang kali di lokasi yang sama, terutama pada lahan yang sebelumnya telah terbakar namun masih menyimpan bara.
“Kalau akumulatif memang selalu bertambah. Tetapi kalau terkait penanganan setiap hari, ada waktunya berkurang dan ada waktunya bertambah,” ujarnya.
Buyung menyebut kondisi lahan yang semakin kering membuat sejumlah lokasi rawan mengalami kebakaran berulang.
Bahkan, terdapat titik yang sebelumnya telah ditangani selama lebih dari 10 hari, tetapi kembali muncul akibat kondisi lahan yang sangat kering.
“Beberapa titik itu sama. Ada yang kemarin sampai hampir 10 hari lebih, kemudian muncul lagi. Karena kondisi lahan yang sudah sangat-sangat kering dan mudah sekali terbakar,” katanya.
Pemantauan Diperketat 24 Jam
Untuk mencegah api meluas, BPBD Kaltim memperkuat sistem pemantauan secara real time selama 24 jam.
Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Kehutanan, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Buyung menegaskan, penanganan Karhutla tidak boleh hanya dimulai ketika api telah membesar.
Menurutnya, deteksi dini dan pencegahan harus menjadi bagian utama dalam sistem penanggulangan bencana.
“Penanganan Karhutla di Kaltim bukan hanya saat api membesar, melainkan menjadi ekosistem kesiapsiagaan dari hulu ke hilir,” tegasnya.
BPBD Kaltim juga terus memperkuat dukungan kepada pemerintah kabupaten dan kota, termasuk melalui kesiapan logistik serta Tim Reaksi Cepat (TRC).
Buyung mengingatkan seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama di wilayah yang memiliki potensi Karhutla tinggi.
“Kami mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki potensi Karhutla tinggi selama musim kemarau,” pungkasnya.
Dengan ribuan hotspot yang terus terpantau sepanjang Agustus, upaya pencegahan kini menjadi perhatian utama. Sebab, di tengah kondisi lahan yang semakin kering, satu titik api yang terlambat ditangani berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (*)
Tidak ada komentar