Hutan Dibabat, Sumber Air Kutim Menyusut: Ribuan Masyarakat Terancam Krisis Air Bersih

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
15 Jun 2026 09:31
2 menit membaca

KUTAI TIMUR – Dugaan aktivitas penebangan hutan di kawasan resapan air Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang menjadi sorotan setelah debit sejumlah mata air utama mengalami penurunan drastis. Dampaknya, pasokan air baku untuk ribuan pelanggan Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

Temuan tersebut terungkap saat Pemerintah Kecamatan Kaliorang bersama Perumdam TTB melakukan inspeksi lapangan ke sejumlah titik sumber mata air yang selama ini menjadi andalan masyarakat.

Plt Camat Kaliorang, Pitriani, menyebut dari empat titik mata air yang sebelumnya memasok kebutuhan warga, kini hanya satu titik yang masih bertahan. Kondisi itu diduga berkaitan dengan berkurangnya tutupan hutan di sekitar kawasan sumber air.

“Debit air turun sangat signifikan. Dari empat titik mata air, kini yang tersisa hanya satu titik yang masih mengalir,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Akibat penyusutan tersebut, kapasitas produksi air baku merosot tajam. Jika kebutuhan ideal untuk melayani 3.827 pelanggan berada di angka 40–50 liter per detik, saat ini pasokan yang tersedia hanya sekitar 12–15 liter per detik.

Penurunan itu memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis air bersih apabila kondisi lingkungan di sekitar sumber mata air terus mengalami kerusakan.

Pemerintah kecamatan kini berupaya mencari sumber air alternatif sembari menyiapkan program penghijauan kembali di kawasan hulu. Langkah itu dinilai penting untuk memulihkan fungsi daerah resapan yang selama ini menjadi penyangga ketersediaan air.

“Kalau hutan terus berkurang, maka sumber air akan semakin terancam. Ini bukan hanya persoalan hari ini, tetapi juga menyangkut kebutuhan generasi mendatang,” tegas Pitriani.

Di tengah ancaman menipisnya pasokan air baku, Perumdam TTB juga mulai mengkaji pemanfaatan infrastruktur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy sebagai solusi darurat untuk menjaga distribusi air bersih kepada masyarakat.

Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, mengatakan kajian tersebut ditargetkan selesai pada akhir Juni 2026. Menurutnya, langkah cepat diperlukan mengingat kebutuhan air bersih terus meningkat sementara sumber air yang tersedia semakin menyusut.

“Kami tidak bisa menunggu kondisi memburuk. Alternatif sumber air harus segera disiapkan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” katanya.

Kondisi ini menjadi peringatan keras bahwa kerusakan lingkungan di kawasan hulu dapat berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat. Jika tidak segera ditangani, ribuan warga Kaliorang dan Sangkulirang berpotensi menghadapi ancaman krisis air bersih yang lebih serius. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }