Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Gasali, saat menghadiri pembukaan Balikpapan Job Fair 2026 di BSCC Dome. Ia mendorong penyelenggaraan bursa kerja ditingkatkan menjadi tiga kali dalam setahun guna memperluas peluang kerja dan memperkuat keterkaitan antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja.BALIKPAPAN – Upaya menekan angka pengangguran di Kota Balikpapan dinilai perlu dilakukan secara lebih agresif. Salah satunya dengan memperbanyak penyelenggaraan bursa kerja atau Job Fair agar masyarakat, khususnya lulusan baru, memiliki akses yang lebih luas terhadap peluang kerja.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Gasali, saat menghadiri pembukaan Balikpapan Job Fair 2026 yang berlangsung di BSCC Dome, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, pelaksanaan Job Fair yang saat ini digelar dua kali dalam setahun sudah memberikan manfaat besar bagi pencari kerja. Namun, frekuensi kegiatan tersebut dinilai masih bisa ditingkatkan menjadi tiga kali dalam setahun agar semakin banyak tenaga kerja terserap oleh dunia usaha.
“Partisipasi 86 perusahaan pada Job Fair tahun ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari dunia usaha. Karena itu saya berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan tiga kali dalam setahun sehingga kesempatan kerja yang tersedia semakin banyak,” ujar Gasali.
Ia menilai penyelenggaraan Job Fair telah menyesuaikan momentum kelulusan siswa dan mahasiswa. Biasanya, kegiatan pertama digelar setelah masa kelulusan sekolah, sementara gelaran berikutnya berlangsung menjelang akhir tahun.
Meski demikian, penambahan satu kali penyelenggaraan dinilai akan memberikan ruang lebih besar bagi pencari kerja yang belum sempat memperoleh pekerjaan pada periode sebelumnya.
“Semakin sering dilaksanakan, semakin besar pula peluang masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Harapan kita tentu angka pengangguran terus menurun dan kesempatan kerja semakin terbuka luas,” katanya.
Gasali menegaskan, Job Fair memiliki peran penting dalam menjembatani lulusan SMA dan SMK yang memilih langsung memasuki dunia kerja dibanding melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dalam berbagai bidang.
“Ini menjadi peluang besar bagi lulusan yang ingin segera bekerja. Kita ingin mereka memiliki akses yang lebih mudah untuk memasuki dunia industri dan dunia usaha,” ujarnya.
Selain mendorong peningkatan frekuensi penyelenggaraan, Gasali juga berharap jumlah perusahaan peserta terus bertambah pada pelaksanaan berikutnya. Semakin banyak perusahaan yang terlibat, semakin beragam pula lowongan yang tersedia bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia menyoroti masih adanya kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan. Karena itu, DPRD Balikpapan mendorong Dinas Tenaga Kerja untuk memperkuat program pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Menurutnya, pelatihan kerja harus dirancang melalui komunikasi intensif dengan dunia usaha agar keterampilan yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri.
“Kami mendorong Dinas Tenaga Kerja terus berkoordinasi dengan pelaku usaha. Keterampilan yang dibutuhkan perusahaan itulah yang harus menjadi dasar penyusunan program pelatihan,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep link and match antara dunia pendidikan, pelatihan, dan industri harus terus diperkuat agar lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
“Harus ada keterhubungan yang kuat antara sertifikasi, keterampilan yang dimiliki pencari kerja, dan kebutuhan perusahaan. Jika itu berjalan baik, peluang masyarakat untuk diterima bekerja tentu akan semakin besar,” pungkasnya.
Balikpapan Job Fair 2026 sendiri diikuti oleh 86 perusahaan dari berbagai sektor usaha yang menawarkan ratusan peluang kerja bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperluas akses lapangan pekerjaan sekaligus menekan angka pengangguran di Kota Balikpapan. (*)
Tidak ada komentar