Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.BONTANG – Aksi 14 siswa sekolah dasar (SD) yang mengambil makanan dan sejumlah barang dari tiga minimarket di Kota Bontang mendapat perhatian serius dari Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Alih-alih hanya melihat tindakan yang dilakukan, Neni ingin mengetahui lebih jauh apa yang melatarbelakangi perilaku anak-anak tersebut.
Pasalnya, seluruh siswa yang terlibat masih berusia belia. Mereka diketahui duduk di kelas II, IV, V hingga VI SD.
Neni bahkan berencana menemui langsung para siswa tersebut untuk melihat kondisi mereka sekaligus melakukan asesmen terhadap faktor yang mendorong terjadinya aksi tersebut.
“Kita mau asesmen apa yang menyebabkan seperti itu,” ujar Neni.
Menurutnya, usia para siswa menjadi hal penting dalam melihat persoalan tersebut. Pemahaman anak terhadap barang yang diambil juga perlu diketahui sebelum menarik kesimpulan mengenai motif mereka.
Salah satu barang yang ditemukan ikut diambil adalah alat kontrasepsi. Namun, Neni meminta temuan tersebut tidak langsung dikaitkan dengan pemahaman tertentu, mengingat para siswa masih berada pada usia sekolah dasar.
“Boleh jadi itu yang paling di depannya yang diambil. Mungkin dia mau ambil yang lain, ini yang dia dapat,” katanya.
Bagi Neni, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan melihat tindakan anak. Lingkungan tempat anak tumbuh, pola pengasuhan hingga penggunaan teknologi juga perlu mendapat perhatian.
Ia menyoroti penggunaan gawai yang saat ini memberikan anak akses luas terhadap berbagai informasi.
“Saya berulang kali sampaikan gadget ini sekaligus merupakan kemudahan dan juga tantangan,” tuturnya.
Karena itu, Neni meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, termasuk ketika mereka berada di luar lingkungan sekolah.
Menurutnya, pendidikan dan pengawasan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam mengetahui lingkungan pergaulan serta aktivitas anak sehari-hari.
Penanganan kasus tersebut, kata Neni, juga harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan sekolah, orang tua dan pemerintah.
Ia meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB) ikut turun melakukan pendampingan dan melihat persoalan tersebut secara lebih menyeluruh.
“Orang tuanya harus hadir, guru harus hadir, kemudian dari pemerintah bidang DP3KB juga harus hadir. Dan semua kita harus hadir, bagaimana kita memitigasi kalau sudah terjadi, bagaimana kita mencegah dan tidak mudah terjadi lagi,” pungkasnya.
Sebelumnya, sebanyak 14 siswa SD di Kecamatan Bontang Utara diketahui terlibat dalam aksi mengambil makanan dan sejumlah barang dari tiga gerai minimarket di Kota Bontang.
Kasus tersebut terungkap setelah pihak sekolah menerima laporan dari guru Bimbingan Konseling (BK).
Sekolah kemudian berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas untuk menindaklanjuti kejadian tersebut sekaligus mencari penyelesaian yang tepat pada Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan penelusuran pihak sekolah dan kepolisian, seluruh siswa yang terlibat masih berusia belia dan tinggal di kawasan yang sama di Bontang Utara.
Sebelum mendatangi minimarket, para siswa disebut kerap berkumpul di sekitar jembatan yang berada di perbatasan dua kelurahan.
Dari lokasi tersebut, mereka kemudian sepakat mendatangi sejumlah minimarket.
Aksi dilakukan di tiga lokasi berbeda sejak awal September. Masing-masing berada di depan Perpustakaan Daerah Kelurahan Satimpo, depan Hotel Akbar Kelurahan Api-Api, serta depan Stadion Bessai Berinta atau Lang-Lang di Kelurahan Bontang Kuala.
Barang yang diambil beragam, mulai dari makanan ringan, cokelat, minyak wangi hingga alat kontrasepsi.
Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian pemerintah daerah. Penanganan tidak hanya diarahkan pada tindakan yang telah dilakukan, tetapi juga pada upaya memahami kondisi anak dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi. (*)
Tidak ada komentar