Pangdam VI/Mulawarman Cek Kesiapan Pertahanan di Perbatasan Nunukan, Prajurit Diminta Jadi Benteng Hidup NKRI

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
3 Sep 2026 20:33
2 menit membaca

NUNUKAN – Kesiapan pertahanan di wilayah perbatasan utara Indonesia menjadi perhatian Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si. Ia turun langsung mengecek sejumlah fasilitas pertahanan dan lokasi latihan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu (2/9/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan sarana dan prasarana pendukung latihan berada dalam kondisi siap, sekaligus melihat kesiapan prajurit dalam menjalankan tugas menjaga wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pangdam mengawali kunjungannya dengan meninjau Mako Puslatpur TNI dan lokasi latihan Super Garuda Shield di Desa Melasu Baru, Kecamatan Sebuku.

Di lokasi tersebut, Krido mengecek langsung sejumlah fasilitas pendukung operasional, termasuk kondisi sarana dan prasarana yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan latihan.

Pengecekan kemudian berlanjut ke sejumlah titik strategis, mulai dari areal PT Bulungan Hijau Perkasa hingga Kampung Gunung Harimau di Desa Pembeliangan.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan infrastruktur pertahanan dan medan latihan yang memasuki tahap penyelesaian akhir dapat digunakan secara aman serta memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Prajurit Diminta Tak Sekadar Jaga Garis Batas

Tak hanya infrastruktur, Pangdam juga menaruh perhatian pada kesiapan mental dan moril prajurit yang akan menjalankan tugas di wilayah perbatasan.

Saat tiba di Marshalling Area Batalyon TP 881/Baratama Dharma, Krido menerima jajar kehormatan dari prajurit yang dipimpin Danyon TP 881/BD Letkol Inf. Riswantoro.

Dalam arahannya, Krido menekankan pentingnya disiplin, loyalitas, dan profesionalisme selama menjalankan penugasan.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan prajurit di perbatasan tidak boleh hanya dimaknai sebagai tugas menjaga keamanan dan pertahanan negara. Prajurit juga harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

“Prajurit harus senantiasa hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. Pererat kemanunggalan TNI dengan rakyat dan berikan kontribusi nyata bagi pembangunan di wilayah penugasan,” kata Krido.

Menurutnya, tugas di wilayah perbatasan memiliki arti strategis. Prajurit tidak hanya menjadi unsur pertahanan, tetapi juga berhadapan langsung dengan masyarakat yang hidup di kawasan perbatasan.

“Kalian bukan sekadar penjaga garis batas di peta, melainkan benteng hidup tempat rakyat menyandarkan harapan dan kedamaiannya,” tegas Krido.

Ia meminta seluruh prajurit menjaga nama baik dan kehormatan satuan serta menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab.

“Setiap tetes keringat yang jatuh di tanah perbatasan Sebuku, setiap cengkeraman jemari pada senjata di tengah kepungan belantara, dan setiap detik keteguhan kalian dalam menjaga kehormatan satuan adalah napas hidup NKRI,” ujarnya.

Krido kemudian meminta prajurit bekerja keras dan memastikan seluruh tugas yang diberikan dapat diselesaikan hingga tuntas.

“Gawi Manuntung, Waja Sampai Kaputing. Bekerja keras sampai tuntas dengan semangat baja hingga titik darah penghabisan,” tuturnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }