IKM Berau Mulai Melek AI, Produk Kampung Didorong Tembus Pasar Lebih Luas

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
3 Sep 2026 17:36
3 menit membaca

BERAU – Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Berau mulai didorong meninggalkan pola pemasaran konvensional dan memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha.

Salah satu teknologi yang mulai diperkenalkan adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini dinilai mampu membantu pelaku IKM memperkuat promosi, membangun citra produk hingga menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pemanfaatan teknologi tersebut bahkan mulai dilakukan pelaku IKM di wilayah kampung. Di Kecamatan Batu Putih, misalnya, salah satu IKM pengolahan hasil perikanan disebut telah memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan produknya melalui media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak lagi menjadi milik pelaku usaha di pusat perkotaan.

Pelaku IKM di kampung pun memiliki peluang yang sama untuk memasarkan produknya hingga ke luar daerah, selama mampu memanfaatkan teknologi secara tepat.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, mengatakan pemanfaatan AI mulai dikenalkan kepada pelaku usaha sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan pemasaran.

“Sekarang sudah ada pelaku IKM yang mencoba menggunakan AI untuk membantu mengenalkan dan memasarkan produk mereka. Ini menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya bisa dimanfaatkan siapa saja, termasuk pelaku usaha di kampung,” ujarnya.

Media Sosial Jadi Etalase Baru Produk Lokal

Eva mengatakan, media sosial seperti Instagram dan Facebook dapat menjadi ruang pemasaran yang efektif bagi pelaku IKM.

Dengan dukungan teknologi digital, pelaku usaha dapat membuat materi promosi yang lebih menarik dan menjangkau calon konsumen tanpa harus mengandalkan pemasaran secara konvensional.

Menurutnya, peluang tersebut penting dimanfaatkan mengingat Berau memiliki beragam produk lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Namun, proses digitalisasi IKM tidak berjalan tanpa tantangan.

Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah kemampuan pelaku usaha dalam memahami dan mengoperasikan teknologi informasi yang belum merata.

“Memang kemampuan setiap pelaku usaha berbeda-beda. Masih ada yang belum terbiasa dengan teknologi informasi. Karena itu, kami terus melakukan pertemuan dan pendampingan agar mereka perlahan bisa memahami sekaligus menerapkan teknologi tersebut,” jelas Eva.

Digitalisasi IKM Tak Cukup Sekadar Pelatihan

Diskoperindag Berau kini berupaya menjadikan digitalisasi sebagai bagian dari pembinaan IKM, bukan sekadar program pelatihan sesaat.

Selain melalui pertemuan dan pendampingan, pemanfaatan sistem pendataan secara digital juga diarahkan agar pelaku usaha semakin terbiasa menggunakan teknologi dalam aktivitas usahanya.

Eva berharap pengalaman pelaku IKM di Batu Putih dapat menjadi pemicu bagi usaha lainnya untuk mulai beradaptasi.

Sebab, menurutnya, potensi produk lokal Berau cukup besar. Persoalannya tinggal bagaimana produk tersebut dikemas, dipromosikan dan diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas.

“Harapannya, kemampuan menggunakan AI dan teknologi digital ini bisa membantu menjawab persoalan pemasaran yang selama ini menjadi salah satu kendala IKM. Produk lokal kita harus mampu dikenal lebih luas dan tidak hanya berhenti di pasar lokal,” pungkasnya. (*/)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }