Kemarau Mulai Menggerus Pertanian Balikpapan, Panen Jagung Petani Anjlok

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
3 Sep 2026 20:35
2 menit membaca

BALIKPAPAN – Musim kemarau mulai menekan sektor pertanian di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Keterbatasan pasokan air membuat produktivitas sejumlah tanaman pangan dan hortikultura menurun, termasuk jagung yang menjadi salah satu komoditas terdampak.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan kini masih melakukan pendataan untuk memetakan dampak kekeringan terhadap kondisi petani dan produksi pertanian di lapangan.

Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan kekeringan berpotensi memengaruhi kualitas hingga produktivitas hasil pertanian. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai gagal panen secara total.

“Yang jelas pasti berdampak pada kualitas produksi akibat kekeringan ini. Kami masih proses mendata di lapangan,” ujar Sri Wahjuningsih, Kamis (3/9/2026).

Menurut Sri, tanaman pangan dan hortikultura menjadi komoditas yang paling rentan mengalami penurunan produksi ketika ketersediaan air tidak mencukupi.

“Komoditas tanaman hortikultura dan tanaman pangan,” katanya.

Produksi Jagung Anjlok

Tekanan kekeringan salah satunya terlihat pada hasil panen jagung. Tanaman masih mampu menghasilkan produksi, namun jumlahnya jauh dari potensi yang seharusnya karena kebutuhan air tidak terpenuhi.

Sri mencontohkan kondisi yang dialami Kelompok Tani (Poktan) Etam Kartika Mandiri di kawasan Lasila. Dari lahan seluas 0,3 hektare, kelompok tani tersebut hanya menghasilkan sekitar 0,2 ton jagung.

Kondisi serupa terjadi pada Poktan Etam Rejeki Borneo di kawasan Manggar. Dengan luas lahan yang sama, 0,3 hektare, produksi jagung yang diperoleh sekitar 0,3 ton.

“Semisal jagung tetap produksi, tetapi provitasnya jauh dari harapan. Kalau gagal total sih tidak,” jelas Sri.

Padahal, dalam kondisi ideal, produktivitas jagung di Balikpapan dapat mencapai sekitar 4 ton per hektare.

Jika dibandingkan dengan potensi tersebut, hasil panen dari dua kelompok tani itu menunjukkan produktivitas yang masih jauh di bawah kondisi ideal.

DKP3 Balikpapan kini masih mengumpulkan data dari sejumlah wilayah untuk mengetahui seberapa luas dan besar dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.

Data tersebut nantinya akan menjadi bahan pembahasan bersama Pemerintah Kota Balikpapan untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan, termasuk terhadap petani dan komoditas yang terdampak.

“Nanti akan dirapatkan bersama oleh Pemkot. Kami siapkan data dulu,” pungkas Sri. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }