Belasan Ribu Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Ingatkan Puncak Risiko Karhutla September–Oktober

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
22 Agu 2026 20:54
3 menit membaca

BALIKPAPAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur semakin mendapat perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mencatat 11.869 titik panas terdeteksi di wilayah Kaltim sepanjang 1–21 Agustus 2026.

Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada musim kemarau 2015, ketika BMKG mencatat 9.793 titik panas.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan ribuan titik panas tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota.

“Sebanyak 11.869 titik panas di Kaltim berhasil dideteksi BMKG selama 1–21 Agustus 2026. Jumlah ini tersebar di 10 kabupaten/kota,” kata Huda di Balikpapan, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Huda, tingginya jumlah titik panas tidak terlepas dari kondisi kemarau tahun ini yang relatif lebih kering. Fenomena El Nino turut meningkatkan potensi munculnya titik panas di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat sejak dini. Tidak hanya mengandalkan penanganan ketika api sudah muncul, mitigasi juga harus dilakukan melalui edukasi dan keterlibatan aktif masyarakat.

Warga Diminta Tak Bakar Lahan Sembarangan

Huda mengatakan salah satu langkah paling penting yang harus dilakukan adalah mencegah masyarakat menggunakan api saat membuka lahan untuk kebutuhan pertanian maupun perkebunan.

Pasalnya, api yang digunakan untuk pembukaan lahan dapat dengan mudah merambat ke area lain, terutama ketika kondisi vegetasi kering dan angin bertiup kencang.

“Hal yang mendesak saat ini adalah mengajak masyarakat tidak melakukan pembakaran ketika membuka lahan, baik untuk pertanian maupun perkebunan. Pembakaran berpotensi merembet ke lahan lain saat terjadi angin kencang,” ujarnya.

Imbauan serupa juga berlaku untuk aktivitas pembakaran sampah. Masyarakat diminta memastikan api benar-benar padam setelah kegiatan pembakaran selesai.

Para pekerja di kawasan perkebunan maupun hutan juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Bara kecil dari puntung rokok dapat menyulut daun dan rerumputan kering hingga berkembang menjadi kebakaran.

Menurut Huda, edukasi pencegahan karhutla harus dilakukan secara konsisten karena ancaman kebakaran diperkirakan belum mencapai puncaknya.

September–Oktober Diprediksi Lebih Panas

BMKG memperkirakan kondisi paling kering akibat pengaruh El Nino di Kaltim masih berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.

Puncak kondisi panas dan kering diprakirakan terjadi pada September hingga Oktober 2026. Dengan kondisi tersebut, jumlah titik panas berpotensi kembali mengalami peningkatan.

“Ajakan ini harus terus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan. Puncak El Nino yang lebih kering di Kaltim diperkirakan bukan hanya pada bulan ini, tetapi puncak panas diprakirakan terjadi September hingga Oktober,” jelas Huda.

Dari total 11.869 titik panas selama 21 hari, rata-rata terdapat sekitar 565 titik panas setiap hari di wilayah Kaltim.

Aktivitas titik panas juga masih cukup tinggi pada Jumat (21/8/2026). Berdasarkan pemantauan BMKG sejak pukul 01.00 hingga 24.00 WITA, tercatat 980 titik panas dalam sehari.

Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, mencapai 439 titik.

Berikutnya, Kutai Timur tercatat 178 titik, Kutai Kartanegara 166 titik, Paser 113 titik, dan Kutai Barat 69 titik.

Sementara itu, Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing tercatat 6 titik panas, Mahakam Ulu 2 titik, serta Balikpapan 1 titik panas.

Tingginya aktivitas titik panas tersebut menjadi peringatan agar seluruh pihak tidak lengah menghadapi musim kemarau. Pemerintah, aparat, perusahaan, dan masyarakat diharapkan memperkuat pencegahan sekaligus mempercepat penanganan apabila muncul titik api.

BMKG menilai upaya sederhana seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar, berhati-hati saat membakar sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan dapat menjadi bagian penting dalam menekan risiko karhutla di tengah kondisi cuaca yang semakin kering. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }