Dishub Balikpapan Siapkan Strategi Atasi Antrean Pertalite

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
21 Agu 2026 23:12
3 menit membaca

BALIKPAPAN — Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Balikpapan kian panjang. Di beberapa titik, antrean bahkan meluber hingga ke badan jalan dan mulai mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Kondisi tersebut mendorong Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurai kepadatan. Salah satu opsi yang tengah disiapkan adalah mengatur jam pelayanan Pertalite agar tidak bersamaan dengan waktu lalu lintas paling padat.

Kepala Dishub Kota Balikpapan, Muhammad Fadli Pathurrahman, mengatakan pengaturan waktu pelayanan diharapkan dapat mencegah antrean kendaraan bertemu dengan puncak aktivitas masyarakat di jalan raya.

“Kita akan mengatur jam nanti, jam-jam pelayanan untuk BBM yang bersubsidi sehingga tidak mengganggu aktivitas kepadatan lalu lintas,” kata Fadli, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, periode pagi menjadi salah satu waktu yang perlu dihindari karena volume kendaraan meningkat akibat aktivitas masyarakat menuju tempat kerja dan mengantar anak ke sekolah.

“Di mana biasanya pagi hari anak-anak bersekolah dan juga ada aktivitas awal ke kantor, itu kita akan hindari nanti,” ujarnya.

Dishub mempertimbangkan dua rentang waktu pelayanan BBM bersubsidi, yakni pukul 09.00–12.00 Wita dan pukul 20.00–23.00 Wita.

Pengaturan tersebut diharapkan dapat memisahkan antrean kendaraan pengisi Pertalite dari jam sibuk, sehingga antrean tidak semakin memakan ruang badan jalan.

“Mungkin itu salah satu strategi kita dalam rangka untuk mengurai kemacetan yang kita lihat sampai hari ini sudah semakin panjang,” tutur Fadli.

Pengguna Pertamax Beralih ke Pertalite

Fadli menyebut meningkatnya antrean Pertalite tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian pengguna yang sebelumnya memilih BBM nonsubsidi Pertamax kini beralih menggunakan Pertalite.

“Karena banyak masyarakat Kota Balikpapan yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite, seperti itu,” katanya.

Perubahan tersebut ikut meningkatkan permintaan terhadap BBM bersubsidi. Dampaknya tidak hanya terasa pada ketersediaan dan antrean di SPBU, tetapi juga pada kelancaran lalu lintas di sekitar lokasi pengisian.

Pemerintah Kota Balikpapan sebelumnya telah melakukan pembahasan bersama BPH Migas dan PT Pertamina Patra Niaga. Salah satu usulan yang didorong adalah penambahan kuota BBM bersubsidi guna mengurangi kepadatan antrean.

Menurut Fadli, pembahasan tersebut akan kembali ditindaklanjuti, khususnya terkait kebutuhan BBM bersubsidi bagi kendaraan roda dua.

“Mungkin dalam waktu dekat, kita akan rapat tindak lanjut terkait masalah penambahan-penambahan kuota untuk BBM yang bersubsidi tersebut, khususnya untuk roda dua nanti,” ujarnya.

Siapkan Alternatif SPBU

Selain mengatur waktu pelayanan, Dishub juga mulai memetakan sejumlah SPBU yang berpotensi menjadi alternatif lokasi pengisian BBM bersubsidi.

Beberapa lokasi yang dipertimbangkan berada di kawasan Jalan MT Haryono, tepatnya di depan Majesti, serta kawasan Grand City.

Fadli mengatakan sejumlah SPBU tersebut merupakan milik pengusaha lokal sehingga diperlukan koordinasi dan kerja sama agar dapat dimanfaatkan untuk membantu mengurai antrean.

“Kita akan kerjasamakan tersebut, sehingga mungkin untuk di area-area tersebut kita akan kondisikan nanti,” jelasnya.

Dishub berharap kombinasi pengaturan jam pelayanan, penambahan kuota, dan optimalisasi sejumlah titik SPBU dapat mengurangi antrean Pertalite di Balikpapan.

Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperlancar akses masyarakat mendapatkan BBM, tetapi juga mencegah antrean kendaraan berkembang menjadi persoalan lalu lintas yang mengganggu aktivitas warga di sejumlah ruas jalan utama kota. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }