OIKN, TNI AU, dan BMKG Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Hadapi Kekeringan di IKN

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
21 Agu 2026 23:02
4 menit membaca

Balikpapan — Menghadapi musim kering yang berkepanjangan di Kalimantan Timur, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama TNI Angkatan Udara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di kawasan IKN dan sekitarnya.

Operasi ini menjadi langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi risiko munculnya titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam pelaksanaannya, pesawat akan menyemai awan yang memenuhi kriteria dengan menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan langkah tersebut diperlukan karena Kalimantan Timur tengah menghadapi periode kering yang cukup panjang.

“Pada saat ini kita mengalami musim kering. Dampak dari terjadinya El Nino bukan hanya di Kaltim, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ujar Danis saat ditemui di Base Ops Lanud Dhomber Balikpapan, Jumat (21/8/2026).

Menurut Danis, kondisi tersebut perlu diantisipasi terutama karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air baku. Kekeringan juga dapat meningkatkan peluang munculnya titik panas di sejumlah wilayah.

Karena itu, OIKN memilih melakukan langkah antisipasi sebelum kondisi menjadi lebih serius. Salah satu upayanya adalah mendorong peningkatan curah hujan melalui operasi modifikasi cuaca.

“Yang perlu kita antisipasi adalah khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan air. Makanya kita mencoba melakukan modifikasi cuaca untuk secara sederhana menambah volume air permukaan yang ada di wilayah IKN dan sekitar,” katanya.

Muka Air Mulai Menurun

Danis menyebut kondisi ketersediaan air di kawasan IKN saat ini masih relatif baik. Namun, penurunan muka air mulai terlihat pada sejumlah sumber air, termasuk Bendungan Sepaku Semoi, embung di kawasan IKN, serta intake Sungai Sepaku.

“Kondisi air saat ini masih baik, tapi memang di waduk, di Bendungan Sepaku Semoi dan sejumlah embung di KIPP semuanya sudah terjadi penurunan air. Kemudian juga di intake Sungai Sepaku,” ujarnya.

OIKN, lanjut Danis, tidak ingin menunggu hingga kondisi air semakin kritis. Meskipun kebutuhan air bersih masyarakat masih dapat dipenuhi, langkah pencegahan perlu dilakukan lebih awal untuk menjaga ketahanan air di kawasan IKN.

“Kita harus mengantisipasi, jangan sampai kering, terus kemudian nanti kita sampai kekurangan air,” tegasnya.

Pesawat Cassa Disiapkan

Untuk mendukung pelaksanaan OMC, OIKN menggandeng BMKG dan TNI AU. Satu unit pesawat Cassa NC-212 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, telah diperbantukan untuk operasi di Kalimantan Timur.

Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, mengatakan pesawat tersebut dijadwalkan mendukung operasi modifikasi cuaca pada 22–27 Agustus 2026.

“Hari ini sudah ada satu BKO pesawat Cassa NC-212 Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, dengan kru yang sesuai dengan perintah untuk mendukung kegiatan operasi modifikasi cuaca mulai dari tanggal 22 Agustus sampai dengan 27 Agustus,” kata Gusti.

Kesiapan armada dan personel, menurut Gusti, telah dilakukan. Bahan semai berupa garam NaCl juga telah tersedia di Lanud Dhomber dan siap digunakan ketika ditemukan awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian.

“Kami sudah mengecek kesiapan dari pesawat, kemudian garam juga sudah berada di Lanud Dhomber. Tinggal menunggu potensi cuaca yang tadi disampaikan,” ujarnya.

Pesawat Cassa NC-212 tersebut memiliki kemampuan terbang hingga sekitar empat jam dan dapat membawa NaCl hingga 800 kilogram dalam satu penerbangan.

“Pesawat kita mampu terbang dengan endurance empat jam sehingga mampu membawa garam sampai dengan 800 kilogram,” jelas Gusti.

Ia berharap dukungan tersebut dapat membantu OIKN dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam menghadapi dampak musim kering yang tengah berlangsung.

Tantangan Utama: Ketersediaan Awan

Di sisi lain, pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan sembarangan. BMKG harus terlebih dahulu memastikan terdapat awan yang memiliki karakteristik sesuai untuk disemai.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan Kalimantan Timur telah hampir dua pekan tidak mengalami hujan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena pertumbuhan awan yang dapat menjadi sasaran OMC relatif terbatas.

“Memang di Kalimantan Timur sudah hampir dua pekan ini tidak turun hujan,” ujar Djoko.

Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat pertumbuhan awan potensial di wilayah perbatasan utara Kalimantan Timur. Namun, pergerakan awan ke arah utara membuat kondisi tersebut belum memungkinkan untuk langsung dilakukan penyemaian.

“Perkembangan awan itu adanya di perbatasan utara di Kalimantan Timur. Itu sangat bagus untuk dilakukan operasi modifikasi cuaca di situ. Namun, misi kita ini tidak tercapai apabila kita lakukan modifikasi cuaca pada saat hari ini, karena perkembangan cuacanya di perbatasan Kalimantan Timur malah ke utara,” jelasnya.

Djoko menambahkan, keberhasilan OMC sangat dipengaruhi kondisi atmosfer serta keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai. Berdasarkan catatan historis, tingkat keberhasilan operasi modifikasi cuaca berada di kisaran 30 persen.

“Secara historis itu 30 persen keberhasilannya,” katanya.

Dengan kondisi kemarau yang membuat pertumbuhan awan relatif minim, tim gabungan kini terus memantau dinamika cuaca di Kalimantan Timur. Pesawat akan diterbangkan ketika terdapat awan potensial dengan kondisi atmosfer yang mendukung.

Melalui langkah tersebut, OIKN bersama BMKG dan TNI AU berharap peluang turunnya hujan di kawasan IKN dan sekitarnya dapat ditingkatkan. Selain menjaga cadangan air permukaan, operasi ini juga diharapkan mampu menekan risiko kekeringan serta potensi karhutla selama periode musim kering. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }