
Penulis: Wahyudi Yunus, SH.MH.
(Ketua Bappilu DPD PSI Kota Bontang)
Newsborneo.id – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Usia yang tidak lagi muda bagi sebuah bangsa. Kita telah melewati perang, pergantian rezim, krisis ekonomi, reformasi, hingga berbagai perubahan zaman yang begitu cepat.
Pada 17 Agustus 2026, Indonesia memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Namun di balik kemeriahan merah putih, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: di tengah hiruk-pikuk politik hari ini, masihkah kita memiliki negarawan?
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan politisi. Indonesia membutuhkan negarawan.
Politisi boleh berpikir tentang pemilu berikutnya. Negarawan berpikir tentang generasi berikutnya.
Politisi bisa sibuk menghitung suara. Negarawan menghitung masa depan bangsa.
Politisi dapat berbeda pilihan dan kepentingan. Tetapi negarawan tahu kapan kepentingan pribadi, kelompok, bahkan partai harus diletakkan di bawah kepentingan negara.
Di usia 81 tahun Republik Indonesia, kerinduan terhadap sosok seperti itu terasa semakin kuat.
Kita rindu pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai tangga menuju kekuasaan yang lebih tinggi, tetapi sebagai amanah untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.
Kita rindu pemimpin yang berani berkata benar meski tidak populer.
Kita rindu pemimpin yang mampu mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari kambing hitam.
Kita rindu pemimpin yang ketika berbicara tentang rakyat, bukan hanya mengingat rakyat menjelang pemilu.
Kita rindu negarawan yang bekerja untuk sejarah, yang meninggalkan legacy untuk generasi. Bukan sekadar untuk elektabilitas apalagi isi tas.
Kemerdekaan tidak pernah dimaksudkan hanya untuk mengganti siapa yang berkuasa. Kemerdekaan adalah janji bahwa rakyat Indonesia akan memiliki kehidupan yang lebih bermartabat, adil, dan sejahtera.
Karena itu, tema Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur seharusnya tidak berhenti menjadi slogan perayaan. Ia harus menjadi pertanyaan bagi setiap pemegang kekuasaan: sudahkah kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran benar-benar dirasakan rakyat?
Negarawan tidak lahir dari baliho. Tidak lahir dari jargon. Tidak pula lahir hanya karena memenangkan pemilu.
Negarawan lahir dari karakter, keberanian, keteladanan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri sendiri.
Dan negarawan tidak harus selalu berada di Istana, parlemen, atau panggung politik. Ia bisa hadir di tengah masyarakat: guru yang mendidik dengan ketulusan, pengusaha yang membuka lapangan kerja, aktivis yang memperjuangkan keadilan, jurnalis yang menjaga kebenaran, maupun anak muda yang memilih mengabdi daripada sekadar mencaci.
Maka pada usia 81 tahun Republik Indonesia, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar perayaan kemerdekaan.
Kita membutuhkan kelahiran kembali semangat kenegarawanan.
Sebab Indonesia terlalu besar untuk dipertarungkan hanya demi kepentingan lima tahunan.
Indonesia terlalu berharga untuk diwariskan dalam keadaan terpecah.
Dan Indonesia terlalu mulia jika masa depannya hanya ditentukan oleh mereka yang sibuk mengejar kekuasaan, tetapi lupa untuk apa kekuasaan itu diberikan.
Di usia 81 tahun ini, mari kita tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan negara kepada kita?”
Mari kita balik pertanyaannya: Apa yang sudah kita berikan kepada negara?
Dan kepada para pemimpin bangsa, rakyat mungkin tidak menuntut kesempurnaan.
Rakyat hanya ingin melihat keberanian untuk berpihak kepada kepentingan yang lebih besar.
Karena pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan nama-nama akan perlahan dilupakan.
Tetapi keteladanan seorang negarawan akan hidup jauh lebih lama daripada masa jabatannya.
Selamat ulang tahun ke-81, Republik Indonesia.
Dirgahayu Indonesiaku.
Semoga di usia yang semakin matang ini, kita tidak hanya memiliki lebih banyak politisi, tetapi juga semakin banyak negarawan yang benar-benar mencintai Indonesia. (*)
Halal Square, Bontang, 16 Agustus 2026.
Tidak ada komentar