
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang memperkuat langkah antisipasi dampak perburukan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini dibahas dalam rapat koordinasi rencana Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan komunikasi risiko yang dipimpin Pj. Sekda Bontang, Akhmad Suharto, di Ruang Rapat DPMPTSP, Kamis (17/9) siang.
Rapat yang melibatkan BPBD, Dinas Damkar, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DLH, dan Diskominfo tersebut membahas langkah perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan, serta penguatan informasi publik.
Dinas Pendidikan menyampaikan telah menerbitkan edaran PJJ dan berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk mengantisipasi kondisi udara. Sejumlah sekolah di wilayah pesisir telah melaksanakan pembelajaran daring sejak Rabu (16/9).
Sementara itu, Dinas Kesehatan menyiapkan pemantauan kualitas udara dalam ruangan di fasilitas kesehatan, mengajukan dukungan logistik kepada Kementerian Kesehatan, serta memperkuat komunikasi risiko melalui media sosial. Masyarakat juga diimbau mematuhi protokol kesehatan dan segera mengakses layanan kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan. Layanan darurat PSC 119 disiapkan untuk mendukung akses rujukan.
Berdasarkan pemantauan DLH, PM2.5 tercatat pada level 126 (Tidak Sehat), sedangkan PM10 berada pada angka 74 (Sedang). BPBD menyampaikan kondisi udara dipengaruhi kiriman polutan dari wilayah kebakaran di kawasan selatan, dengan jarak pandang pagi berkisar 100 meter.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Bontang melaksanakan pembagian masker di Simpang Bontang Baru pada Kamis (17/9). Pj. Sekda juga mengarahkan pendataan kebutuhan masker, koordinasi dukungan logistik dari perusahaan, serta penayangan informasi kualitas udara melalui media komunikasi, termasuk videotron.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons terpadu Pemkot Bontang dalam mengurangi risiko kesehatan dan menjaga keselamatan masyarakat selama kondisi kualitas udara memburuk. (*)
Tidak ada komentar