ISPA di Balikpapan Tembus 4.125 Kasus, Dinkes Pantau Dampak Kabut Asap

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
22 Sep 2026 14:46
3 menit membaca

BALIKPAPAN — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Balikpapan mencapai sekitar 4.125 kasus. Angka tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan di tengah kabut asap yang mulai dirasakan masyarakat dalam dua pekan terakhir.

Meski jumlah kasus cukup tinggi dan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di Balikpapan, Dinkes menyebut kenaikannya sejauh ini belum tergolong signifikan.

Sekretaris Dinkes Kota Balikpapan, Elisabeth Rassi, mengatakan data terbaru dalam tiga hari terakhir menunjukkan jumlah kasus ISPA telah berada di angka sekitar 4.125 kasus.

“Kasus ISPA yang berada pada posisi peningkatan belum terlalu signifikan. Dalam rutinitas 10 penyakit terbanyak yang ada di Kota Balikpapan memang ditempati oleh ISPA,” kata Elisabeth.

Meski demikian, Dinkes tidak mengabaikan adanya peningkatan kasus dalam beberapa pekan terakhir. Pemantauan terus dilakukan untuk melihat kemungkinan keterkaitan antara kondisi kualitas udara dengan gangguan kesehatan masyarakat.

Monitoring dan evaluasi dilakukan melalui 27 puskesmas dan 16 rumah sakit yang tersebar di Kota Balikpapan. Data dari fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat perkembangan penyakit di tengah kondisi lingkungan yang berubah.

Elisabeth mengatakan, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sekitar dua pekan terakhir, bertepatan dengan mulai dirasakannya kabut asap di sejumlah wilayah Balikpapan.

“Di Kota Balikpapan baru ada peningkatan sekitar dua minggu terakhir ini. Karena sudah mulai berdampak dan kita bisa merasakan sendiri bagaimana setiap pagi kalau kita berangkat bertugas atau ke sekolah, kita sudah mulai merasakan dampak dari kabut asap tersebut,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak kabut asap, Dinkes Balikpapan juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap kasus penyakit, tetapi juga kondisi kualitas udara di lingkungan masyarakat.

Dinkes turut memanfaatkan perangkat yang tersedia dalam sanitarian kit di puskesmas untuk membantu pemantauan kondisi lingkungan.

Berdasarkan hasil pemantauan terakhir, kualitas udara di Balikpapan masih berada pada kategori sedang. Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian apabila paparan asap berlangsung dalam waktu lama.

Dinkes mengimbau masyarakat meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Penggunaan masker juga dianjurkan apabila kondisi asap sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Kami di Dinas Kesehatan Kota Balikpapan selalu melakukan edukasi kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan imunitas tubuh dengan menjaga kesehatan yang baik, selalu menerapkan PHBS, dan menggunakan masker jika kadar atau level daripada dampak asap itu sudah mengganggu aktivitas,” kata Elisabeth.

Selain ISPA, Dinkes Balikpapan turut memantau kasus diare akut yang juga mengalami peningkatan dalam dua pekan terakhir.

Namun, peningkatan tersebut masih relatif kecil, yakni sekitar 2,5 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Baru dua minggu ini juga. Peningkatannya sekitar kurang lebih 2,5 persen. Artinya belum terlalu signifikan tinggi,” ujarnya.

Menurut Elisabeth, kondisi kemarau juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kebersihan lingkungan serta pola hidup masyarakat.

Karena itu, masyarakat diminta memastikan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tetap bersih. Kebersihan makanan dan minuman juga harus diperhatikan, terutama yang dikonsumsi anak-anak.

“Kita berharap masyarakat dan seluruh lapisan masyarakat di Kota Balikpapan dapat tetap menggunakan air dengan kondisi yang bersih. Jangan sampai dengan kondisi cuaca kemarau ini kita akhirnya PHBS-nya menurun,” katanya.

Masyarakat juga diingatkan membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta memastikan makanan dan jajanan yang dikonsumsi anak-anak berada dalam kondisi bersih.

“Kebiasaan-kebiasaan PHBS itu sebenarnya memang sangat dibutuhkan setiap hari untuk mencegah terjadinya penyakit diare, ISPA juga termasuk, dan beberapa penyakit lainnya seperti penyakit kulit,” tuturnya.

Dinkes memastikan pemantauan kesehatan masyarakat akan terus dilakukan melalui seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, rumah sakit hingga klinik kesehatan.

“Seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Kota Balikpapan siap untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Persiapannya sudah terpadu, kita sudah melakukan koordinasi dengan seluruh fasilitas kesehatan,” pungkas Elisabeth. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }