Pasokan Air Samarinda Masih Aman, Tapi Waduk Benanga Mulai Jadi Perhatian

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
4 Sep 2026 20:14
3 menit membaca

SAMARINDA – Ancaman kemarau panjang dan fenomena El Niño mulai menjadi perhatian serius di Kota Samarinda. Namun hingga saat ini, pasokan air bersih bagi masyarakat masih dipastikan aman.

Perumda Air Minum Tirta Kencana Kota Samarinda mengaku telah menyiapkan sejumlah skenario mitigasi untuk mengantisipasi jika kemarau berdampak terhadap ketersediaan maupun produksi air baku.

Direktur Utama Perumda Tirta Kencana Samarinda, Nor Wahid Hasyim, mengatakan pihaknya memiliki empat level mitigasi, yakni Strategi Normal, Waspada, Siaga, dan Kritis.

“Untuk kondisi saat ini, posisi Kota Samarinda masih berada pada tingkat Strategi Normal,” kata Nor Wahid saat menjadi pembicara dalam kegiatan terkait jaminan pasokan air Samarinda di tengah ancaman kekeringan, Jumat (4/9/2026).

Meski masih dalam kondisi normal, ancaman penurunan kapasitas produksi tetap menjadi perhatian. Nor Wahid mengungkapkan, sekitar lima hingga enam hari sebelumnya Samarinda sempat memasuki fase Waspada akibat fenomena arus sorong.

Kondisi tersebut dipicu tingginya pasang air laut yang bertepatan dengan fase bulan purnama. Dampaknya, operasional dua instalasi sempat terganggu dan kapasitas produksi mengalami penurunan sementara.

Namun kondisi tersebut berhasil diatasi. Dukungan curah hujan di wilayah hulu turut membantu menjaga kondisi sumber air baku sehingga operasional kembali berjalan normal.

Mahakam Masih Jadi Andalan Utama

Dari seluruh sumber air baku yang digunakan, Sungai Mahakam menjadi tumpuan utama kebutuhan air bersih Samarinda. Lebih dari 80 persen kebutuhan air baku kota disebut berasal langsung dari sungai tersebut.

Selain Mahakam, Tirta Kencana memanfaatkan anak Sungai Mahakam, yakni Sungai Karang Mumus dan Sungai Bengen, yang memiliki kapasitas lebih kecil. Satu sumber lainnya adalah Bendungan atau Waduk Benanga.

Hingga kini, seluruh sumber air baku tersebut masih terpantau relatif aman.

Sungai Karang Mumus bahkan dinilai memiliki kondisi yang lebih terjamin karena pola alirannya mengikuti pasang-surut Sungai Mahakam.

Berbeda dengan Benanga.

Bendungan Benanga kini menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian lebih selama musim kemarau. Sebab, waduk tersebut sangat bergantung pada curah hujan.

Volume aliran air yang masuk ke waduk penampung air hujan itu mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat Benanga menjadi salah satu indikator penting yang terus dipantau Tirta Kencana untuk mengantisipasi perubahan kondisi pasokan air Samarinda.

Bukan Produksi, Kualitas Air yang Mulai Terdampak

Nor Wahid memastikan kemarau sejauh ini belum menyebabkan penurunan kapasitas produksi secara masif.

Dampak cuaca justru lebih terasa pada kualitas air di sejumlah wilayah pelayanan.

Sekitar 4 persen wilayah pelayanan mengalami peningkatan kadar zat besi dan mangan. Kondisi itu sempat memengaruhi tingkat kejernihan air yang diterima masyarakat.

Meski demikian, persoalan tersebut berhasil ditangani melalui penanganan khusus dan penyesuaian penggunaan bahan kimia pengolah air.

“Kami mengajak masyarakat untuk berhemat menggunakan air agar pasokan bisa merata untuk semua. Masyarakat juga diharapkan melakukan penampungan air secukupnya,” imbau Nor Wahid.

Ia menegaskan, Perumda Air Minum Tirta Kencana akan terus melakukan pemantauan terhadap seluruh sumber air baku dan menyesuaikan langkah operasional berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

Di tengah potensi kemarau yang masih berlangsung, masyarakat juga diminta tidak menggunakan air secara berlebihan.

Nor Wahid turut mengajak masyarakat memperkuat upaya menghadapi kondisi tersebut dengan doa bersama, seraya berharap curah hujan segera kembali turun dan menjaga ketersediaan sumber air baku Samarinda.

Dengan empat level mitigasi yang telah disiapkan, Tirta Kencana memastikan langkah antisipasi akan terus dilakukan agar ancaman kekeringan tidak sampai mengganggu pelayanan air bersih kepada masyarakat. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }