
ROBOHNYA fasilitas penampungan sampah di Kampung Atas Air Malahing, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Bontang, Kamis (23/4/2026) malam, langsung memicu persoalan baru: ancaman penumpukan sampah di permukiman atas laut. Tanpa tempat penampungan sementara, warga kini terpaksa menyimpan sampah di rumah, sementara jadwal pengangkutan hanya dua kali dalam sebulan.
Bangunan yang ambruk sekira pukul 19.30 Wita itu sebelumnya menjadi titik kumpul sampah warga sebelum diangkut Dinas Lingkungan Hidup. Dalam kondisi normal, sistem ini masih berjalan karena ada fasilitas penyangga. Kini, sistem itu praktis lumpuh.
“Kalau tidak ada penampungan, kami bingung mau taruh di mana. Mau tidak mau disimpan di rumah,” kata Ketua RT 30 Tanjung Laut Indah, Nasir.
Video yang beredar menunjukkan bangunan tersebut roboh hingga sebagian tenggelam ke laut. Warga yang berada di sekitar lokasi sempat panik dan berupaya menyelamatkan material yang masih bisa digunakan.
Nasir mengungkapkan, tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat beberapa hari sebelumnya. Struktur bangunan mulai bergoyang saat hujan dan angin kencang, sebelum akhirnya ambruk usai waktu magrib.
Fasilitas tersebut dibangun sekira 2018 melalui program CSR perusahaan. Dengan usia 7–8 tahun dan konstruksi dinding beton yang menahan beban cukup berat, bangunan diduga tidak lagi mampu menopang tekanan, terutama di kawasan pesisir yang rentan.
Dampaknya kini langsung dirasakan warga. Di kawasan permukiman atas air seperti Malahing, keterbatasan ruang membuat penyimpanan sampah dalam rumah berisiko memicu bau, pencemaran, hingga gangguan kesehatan.
Situasi ini juga membuka potensi sampah berakhir di laut jika tidak segera tertangani. Padahal, kawasan tersebut tidak hanya menjadi permukiman, tetapi juga ruang aktivitas ekonomi warga, termasuk budidaya dan pengelolaan rumput laut yang bergantung pada kualitas perairan.
Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung lokasi Minggu (26/4/2026). Selain melihat kondisi bangunan, kelurahan juga memetakan kebutuhan penanganan darurat.
“Beberapa material masih bisa diselamatkan, tapi untuk fungsi penampungan sudah tidak bisa digunakan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, kelurahan meminta Ketua RT menyusun kebutuhan anggaran untuk pembangunan kembali fasilitas tersebut. Proposal akan diajukan ke pihak perusahaan agar bantuan bisa segera direalisasikan.
Di sisi lain, warga menyatakan siap bergotong royong membangun ulang. Namun, mereka menegaskan kebutuhan utama saat ini adalah ketersediaan material bangunan.
Sambil menunggu proses itu, warga diimbau mengelola sampah secara mandiri dari rumah, termasuk memilah dan menekan produksi sampah plastik. Namun, tanpa perubahan jadwal pengangkutan yang masih dua kali sebulan, tekanan terhadap lingkungan diperkirakan tetap tinggi.
Jika penanganan tidak segera dilakukan, persoalan ini berpotensi meluas—bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga kesehatan warga dan keberlanjutan ekosistem pesisir di Malahing. [RE/FR]
Tidak ada komentar