Dialog Publika TVRI Kalimantan Timur, Rabu (10/6/2026).SAMARINDA – Kenaikan harga tiket pesawat yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya operasional penerbangan mulai memberikan dampak nyata terhadap mobilitas masyarakat serta sektor pariwisata di Kalimantan Timur.
General Manager Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Iwan Winaya Mahdar, mengungkapkan jumlah penumpang mengalami penurunan signifikan setelah periode Lebaran 2026.
Menurutnya, sebelum terjadi lonjakan harga tiket, jumlah penumpang yang melalui Bandara SAMS Balikpapan dapat mencapai 14 hingga 15 ribu orang per hari. Namun kini angkanya turun menjadi sekitar 9 hingga 11 ribu penumpang per hari.
“Pada akhir pekan masih ada peningkatan, rata-rata mencapai sekitar 12 ribu penumpang. Namun secara umum terjadi penurunan dibandingkan periode sebelumnya,” ujarnya dalam Dialog Publika TVRI Kalimantan Timur, Rabu (10/6/2026).
Iwan menjelaskan, kenaikan tarif penerbangan dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya meningkatnya harga avtur yang terdampak kondisi geopolitik global. Akibatnya, biaya perjalanan udara ikut melonjak.
Sebagai gambaran, tarif penerbangan rute Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,1 juta kini dapat mencapai Rp1,7 juta hingga Rp2 juta per penumpang.
Meski industri penerbangan menghadapi tekanan, sektor pariwisata Kalimantan Timur masih menunjukkan performa yang cukup positif. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyebut jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Kaltim selama April hingga Mei 2026 mencapai sekitar 1,1 juta kunjungan.
Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara tercatat menembus angka 10 ribu orang. Beberapa daerah yang menjadi tujuan utama wisatawan asing antara lain Berau, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Kartanegara.
Namun demikian, dampak kenaikan biaya perjalanan mulai dirasakan oleh pelaku industri pariwisata. Tingkat okupansi hotel di sejumlah wilayah dilaporkan masih berada di bawah 30 persen.
Tidak hanya itu, sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) juga mengalami perlambatan akibat berkurangnya kegiatan pemerintah maupun perusahaan di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Untuk menjaga daya saing pariwisata daerah, Ririn mendorong adanya dukungan pemerintah pusat, termasuk kemungkinan pemberian subsidi tiket pesawat. Selain itu, kolaborasi antara pelaku wisata, industri perhotelan, dan platform perjalanan digital dinilai penting untuk menarik minat wisatawan.
“Kerja sama promosi dan paket wisata yang kompetitif perlu terus diperkuat agar sektor pariwisata tetap bergerak di tengah tantangan yang ada,” katanya.
Di sisi lain, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan bahwa harga tiket pesawat merupakan salah satu komponen yang turut memengaruhi laju inflasi daerah. Karena itu, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui sinergi Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Kaltim, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Politik UMKT, Farid Wajdi, menilai kenaikan tarif penerbangan merupakan dampak dari faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah daerah.
Menurutnya, dibutuhkan strategi yang adaptif dan inovatif agar sektor penerbangan maupun pariwisata tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para pemangku kepentingan tetap optimistis potensi pariwisata Kalimantan Timur masih sangat besar. Melalui kolaborasi, inovasi, dan penguatan pasar wisata domestik, sektor ini diyakini tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah. (*)
Tidak ada komentar