Wakil Panglima TNI Tinjau Karhutla dan Kekeringan Kaltim, Tekankan Sinergi hingga Efektivitas OMC

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
23 Agu 2026 00:23
3 menit membaca

BALIKPAPAN – Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).

Kunjungan tersebut berlangsung di Base Operation Lanud Dhomber Balikpapan, Sabtu (22/8/2026), sekaligus menjadi momentum memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.

Tandyo tiba menggunakan pesawat jet VVIP Falcon 8X A-0801. Kedatangannya disambut Komandan Lanud Dhomber Balikpapan Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, M.Han.

Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Kasdam Kodam VII/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan, Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo, serta jajaran dari Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI, Polri, BMKG dan instansi terkait.

Tak berselang lama, Dankor Brimob Polri Komjen Pol Ramdani Hidayat juga tiba di lokasi menggunakan pesawat Beechjet/P-8001.

Wakil Panglima TNI bersama Dankor Brimob kemudian mengikuti pertemuan bersama sejumlah pejabat daerah dan pemangku kepentingan. Pertemuan tersebut membahas kondisi terkini karhutla, kekeringan, serta langkah penanganan yang perlu diperkuat di lapangan.

Danlanud Dhomber Balikpapan Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana mengatakan, dalam pertemuan tersebut Tandyo menerima paparan dari berbagai pihak terkait kondisi Kaltim.

“Beliau tadi sudah mendengarkan paparan dari semua stakeholder yang ada di Balikpapan, baik itu dari Meteorologi Bandara, kemudian dari BMKG, dari BNPB daerah, kemudian ada juga paparan dari Kodam, dari Polda, dan juga kru yang akan melaksanakan misi,” ujar Sorga.

Penanganan Karhutla Tak Bisa Sendiri

Menurut Sorga, Wakil Panglima TNI mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan. Namun, ia juga menekankan pentingnya kebersamaan seluruh unsur dalam menghadapi karhutla dan kekeringan.

“Beliau mengapresiasi dan menekankan bahwa kegiatan penanggulangan akibat dari kebakaran hutan ini, termasuk kekeringan yang saat ini melanda Kalimantan, agar seluruh personel ataupun pihak-pihak yang terlibat untuk selalu menjalin kebersamaan,” katanya.

Sorga menegaskan, kompleksitas karhutla membutuhkan penanganan terpadu. Tidak ada satu institusi yang dapat bekerja sendiri untuk mengendalikan titik panas maupun titik api.

“Kolaborasi dari seluruh stakeholder dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jadi tidak dilaksanakan sendiri-sendiri, tapi harus bersama-sama bersinergi dan saling bahu-membahu,” tegasnya.

Selain penanganan langsung di lokasi kebakaran, upaya menghadapi kekeringan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). TNI AU mendapat peran dalam mendukung operasi tersebut untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

OMC Harus Didukung Pemantauan Awan

Dalam pelaksanaan OMC, TNI AU diminta menjalankan misi sesuai wilayah kerja yang telah ditentukan. Koordinasi dengan BMKG dan OIKN dilakukan untuk memantau kondisi atmosfer serta perkembangan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Kita sebagai TNI AU, terutama dalam misi operasi modifikasi cuaca, diminta untuk fokus sesuai dengan wilayah kerja yang diberikan. Kita bekerja sama dengan BMKG dan OIKN untuk selalu memantau kemungkinan-kemungkinan yang ada,” jelas Sorga.

Ia menyebut pemantauan pertumbuhan awan menjadi salah satu kunci keberhasilan penyemaian dalam OMC. Karena itu, kondisi awan di setiap wilayah harus dipantau secara detail sebelum menentukan titik operasi.

“Artinya pertumbuhan awan yang ada di area secara detail kita harus ketahui sehingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini bisa berjalan dengan efektif,” ujarnya.

Meski demikian, efektivitas misi tetap harus berjalan beriringan dengan aspek keselamatan.

“Kemudian tetap mengutamakan keselamatan terbang dan kerja,” tegasnya.

Kunjungan Wakil Panglima TNI dan Dankor Brimob menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla dan kekeringan di Kaltim.

Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB, OIKN, serta berbagai unsur terkait diharapkan mampu mempercepat respons terhadap titik panas dan kebakaran sekaligus memperkuat langkah mitigasi menghadapi kondisi kering yang masih berlangsung. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }