Tokoh masyarakat Desa Tabo-Tabo, Abdullah. (dok: Newsborneo)PANGKEP – Kesabaran warga Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, tampaknya mulai mencapai batas. Di tengah aktivitas perusahaan yang terus berlangsung dan hasil bumi yang keluar dari wilayah mereka setiap hari, masyarakat mengaku justru belum merasakan manfaat yang sepadan dari keberadaan investasi tersebut.
Kekecewaan itu memuncak setelah sejumlah sopir lokal yang selama ini bekerja untuk menunjang aktivitas perusahaan dikabarkan diberhentikan dan digantikan oleh tenaga kerja dari luar daerah. Situasi tersebut memicu aksi protes warga hingga sempat menghentikan aktivitas kendaraan angkutan perusahaan.
Tokoh masyarakat Desa Tabo-Tabo, Abdullah, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk penolakan terhadap investasi maupun operasional perusahaan. Namun, warga menuntut keadilan dan meminta perusahaan memberikan prioritas kepada masyarakat setempat dalam kesempatan kerja.
“Kenapa sopir yang selama ini bekerja tiba-tiba dikeluarkan lalu diganti orang luar? Itu yang menjadi pertanyaan warga. Sebelum ada penjelasan yang jelas dari perusahaan, kami minta aktivitas kendaraan dihentikan dulu,” tegas Abdullah.
Menurutnya, penjelasan yang beredar terkait kendaraan yang disebut hanya sebagai mobil pendor tidak menjawab substansi persoalan yang dipersoalkan masyarakat. Sebab kendaraan tersebut tetap menjadi bagian dari rantai operasional perusahaan.
“Kalau disebut mobil pendor, tetap saja itu bekerja untuk perusahaan. Yang kami minta adalah penjelasan terbuka dan transparan. Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan penonton di kampung sendiri,” katanya.
Bagi warga, persoalan ini bukan semata soal beberapa sopir yang kehilangan pekerjaan. Lebih dari itu, masyarakat menilai ada ketimpangan antara keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan manfaat yang dirasakan warga sekitar.
Setiap hari, kendaraan perusahaan melintasi kawasan permukiman. Debu beterbangan saat musim kemarau, sementara suara kendaraan berat menjadi bagian dari rutinitas yang harus diterima masyarakat. Namun di balik dampak tersebut, peluang kerja bagi warga lokal dinilai masih sangat terbatas.
“Perusahaan ambil hasil bumi di Tabo-Tabo lalu dibawa keluar. Tapi yang kami rasakan justru debu, kebisingan kendaraan, dan dampak lainnya. Banyak warga kami yang masih menganggur,” ungkap Abdullah.
Pernyataan itu mewakili keresahan banyak warga yang berharap investasi di daerah tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Warga menilai keberadaan perusahaan seharusnya menjadi pintu pembuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, bukan justru menghadirkan tenaga kerja dari luar ketika masih banyak penduduk setempat yang membutuhkan pekerjaan.
Selain menuntut prioritas tenaga kerja lokal, masyarakat juga meminta perusahaan membuka ruang dialog yang lebih baik agar setiap kebijakan yang menyangkut masyarakat tidak menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari.
“Yang kami perjuangkan bukan sekadar soal sopir. Ini soal hak masyarakat untuk ikut menikmati manfaat dari aktivitas perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka sendiri,” tegas Abdullah.
Hingga kini warga Desa Tabo-Tabo masih menunggu penjelasan resmi dari pihak PT GKGM terkait tuntutan tersebut. Mereka berharap perusahaan dapat mendengar aspirasi masyarakat dan menunjukkan komitmen nyata dalam memberdayakan tenaga kerja lokal.
Sebab bagi warga Tabo-Tabo, keberadaan investasi bukan hanya tentang aktivitas bisnis dan keuntungan perusahaan, melainkan juga tentang sejauh mana masyarakat sekitar dapat ikut tumbuh, bekerja, dan merasakan manfaat dari kekayaan alam yang berasal dari tanah mereka sendiri.
Hingga berita ini diturungkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak penanggung jawab perusahaan.(irw)
Tidak ada komentar