
Agus HarisBONTANG – Pemerintah Kota Bontang mematangkan persiapan Sekolah Rakyat melalui sekolah rintisan. Proses ini ditargetkan selesai sebelum tahun ajaran baru, Juli 2026.
Program ini menjadi pintu masuk bagi anak-anak putus sekolah dan keluarga kurang mampu untuk kembali mengenyam pendidikan layak.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menjelaskan, sekolah rintisan disiapkan sebagai solusi sementara sebelum Sekolah Rakyat permanen rampung dibangun. Saat ini, pihaknya masih menunggu finalisasi data calon peserta didik dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang.
“Untuk jumlah siswa masih menunggu data yang sedang difinalisasi Disdikbud. Target kami, sekolah rintisan ini sudah bisa berjalan di tahun ajaran baru,” kata Agus Haris, Kamis (15/1/2026).
Selain data peserta didik, pemerintah daerah juga mempersiapkan infrastruktur pendukung. Pekerjaan teknis dilakukan secara kolaboratif antara Dinas Pekerjaan Umum dan Disdikbud. Tujuannya agar fasilitas belajar mengajar segera dapat difungsikan.
“Bulan ini rencananya akan ada tim dari kementerian yang datang untuk survei. Namun sambil menunggu proses pembangunan sekolah permanen, kita mulai dulu dengan sekolah rintisan,” jelasnya.
Sekolah rintisan akan berlokasi di GOR Bontang Lestari. Lokasi ini dianggap strategis, mudah diakses, dan ruangannya bisa cepat disesuaikan.
“Tidak perlu pembangunan besar. Ruangannya tinggal disekat-sekat saja. Paling tidak bisa digunakan selama satu tahun sambil menunggu gedung Sekolah Rakyat selesai dibangun,” ungkap Agus.
Setelah Sekolah Rakyat permanen rampung, GOR Bontang Lestari akan dikembalikan fungsinya untuk kegiatan olahraga. Pemkot juga berencana memusatkan kawasan olahraga di lokasi tersebut, termasuk pemindahan Kantor Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).
Sekolah Rakyat sendiri dirancang berkonsep asrama dengan dukungan penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Sosial senilai Rp250 miliar. Program ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada kelompok rentan sekaligus upaya memutus mata rantai putus sekolah di Bontang.
“Ini bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun harapan dan masa depan anak-anak yang selama ini sulit mengakses pendidikan,” tegas Agus.
Pemkot Bontang juga menaruh perhatian besar pada peran guru. Melalui Program Komitmen Bontang, pemerintah daerah terus meningkatkan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan.
“Tanpa guru yang sejahtera, pendidikan sulit berjalan optimal. Karena itu, peningkatan kesejahteraan guru menjadi bagian penting dari komitmen kami,” pungkasnya. (FR)
Tidak ada komentar