Sultan Kutai Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

Redaksi
9 Apr 2021 09:38
Kaltim 0
4 menit membaca

SAMARINDA – Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) meminta salah seorang tokoh Kesultanan Kutai Aji Muhammad Idris ditetapkan menjadi salah satu pahlawan nasional. Sultan ini gugur saat bertempur melawan pasukan VOC di Sulawesi Selatan (Sulsel) sekitar tahun 1735-1778.

“Ini tidak boleh tidak, tahun ini kita usulkan dan harus bersatu terus memperjuangkan ke Jakarta,” kata Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi seperti di akun Instagram Pemprov Kaltim, Kamis (8/5/2021).

Dinas Sosial Kaltim menggelar seminar calon pahlawan nasional asli Kaltim dari Kesultanan Kutai Sultan Aji Muhammaad Idris. Acara dilaksanakan secara luring dan daring di Hotel Bumi Senyiur Samarinda.

Seminar offline diikuti 40 peserta, termasuk anggota DPR RI (Komisi VII) H Awang Faroek Ishak, peserta online 160 orang dari Gubernur Sulsel, Bupati Wajo, OPD Provinsi Kaltim, OPD Pemkab Kukar.

Sehubungan itu, Hadi akan memastikan agar Sultan Aji Muhammad Idris terpilih menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, pengorbanan Sultan Kutai ini sudah menjadi bukti jiwa kepahlawanan dan harus diakui secara de facto oleh negara.

Rakyat Kaltim pun diminta bersatu dalam mendesak ke pemerintah pusat tentang perjuangan Sultan Aji Muhmmad Indris. Sebelumnya, Kaltim telah beberapa kali meminta negara mengakui Sultan Kutai ini sebagai pahlawan nasional.

Insya Allah semuanya harus berjuang agar usulan dalam tahun ini bisa berhasil, sehingga Kaltim memiliki pahlawan nasional,” ujarnya.

Sehingga, masyarakat Kaltim bisa turut merasa bangga serta mewarisi jiwa kepahlawanan Sultan Aji Muhammad Idris. Semangat patriotik ini menjadi warisan bagi seluruh generasi muda.

Pemprov Kaltim masih terus mengkaji serta mengumpulkan fakta tentang peran dan perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris dalam melawan penjajahan VOC Belanda. Pengumpulan data dilakukan lewat pelbagai sumber dan saksi dari Kesultanan Kutai.

“Masih mengkaji dan menelusuri peran perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris,” kata Ketua Panitia Seminar Juraidi.

Alat bukti dan keterangan saksi ini, kata Juraidi nantinya dibawa untuk disampaikan pada pemerintah pusat. Sebagai syarat pengusulan Sultan Aji Muhammad Idris sebagai pahlawan nasional dari Kaltim.

Seminar dihadiri narasumber dari Kementerian Sosial RI Drs.Joko Irianto, dan Kesultanan Kukar H Aji Bambang Imran. Selain itu, turut hadir Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kepariwisataan Universitas Negeri Makassar Prof Andi Irma Kesuma, serta Universitas Indonesia Dr Didik Prajoko dan akademisi Nasihin S.S.M.A.

Seperti termuat dalam Wikipedia, Sultan Aji Muhammad Idris adalah Sultan ke 14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang memerintah mulai tahun 1735 hingga tahun 1778. Ia menjadi sultan pertama yang menggunakan nama Islam semenjak masuknya agama ini di Kesultanan Kutai Kartanegara memasuki abad 17.

Sultan Aji Muhammad Idris merupakan menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng asal Sulsel. Sehingga, Ia membantu mertuanya dan rakyat Bugis melawan pasukan VOC Belanda di tanah Wajo. Saat itu, kendali Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.

Dalam pertempuran melawan VOC ini, Aji Muhammad Idris gugur di medan laga. Jenazahnya hingga kini diduga masih bersemayam di Sulsel. Sepeninggal Aji Muhammad Idris, terjadi perebutan takhta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo.

Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Seorang saksi dari silsilah Lamaddukelleng ke 8 Andi Irma Kesuma mengatakan, Kerajaan Kutai adalah kerajaan yang terbuka dan dinamis karena memiliki sungai yang cukup besar dalam sistem perdagangan. Dalam konteks kesejarahan nusantara di Indonesia, Kerajaan Hindu pertama adalah Kerajaan Kutai itu sendiri.

Memasuki abad ke XVIII, Kerajaan Kutai berubah menjadi Kesultanan Kutai menyusul masuknyaagama Islam di Kaltim. Kesultanan juga anti terhadap praktik kolonialisme dan pola perdagangan monopoli dipaksakan VOC.

Pada waktu itu, lanjut Andi Irma Kesuma, juga kelihatan bagaimana kebesaran Sultan Aji Muhammad Idris, merangkul kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Salah satunya Kerajaan Paser, dan itu suatu kekuatan yang dibangun tentang integritas dan visi perjuangannya.

“Ada pada tiga pilar yakni menyambung kembali silaturahmi kerajaan-kerajaan dalam satu visi yang sama dalam melawan kolonialisme. Kedua, kesultanan berdasarkan Islam, dan ketiga, bagaimana melawan Belanda dan sekutunya,” ujar Irma.  [DIAS]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 138000571

article 138000572

article 138000573

article 138000574

article 138000575

article 138000576

article 138000577

article 138000578

article 138000579

article 138000580

article 138000581

article 138000582

article 138000583

article 138000584

article 138000585

article 138000586

article 138000587

article 138000588

article 138000589

article 138000590

article 138000591

article 138000592

article 138000593

article 138000594

article 138000595

article 138000596

article 138000597

article 138000598

article 138000599

article 138000600

article 138000601

article 138000602

article 138000603

article 138000604

article 138000605

article 138000606

article 138000607

article 138000608

article 138000609

article 138000610

article 138000611

article 138000612

article 138000613

article 138000614

article 138000615

article 138000616

article 138000617

article 138000618

article 138000619

article 138000620

article 138000621

article 138000622

article 138000623

article 138000624

article 138000625

article 138000626

article 138000627

article 138000628

article 138000629

article 138000630

article 158000426

article 158000427

article 158000428

article 158000429

article 158000430

article 158000436

article 158000437

article 158000438

article 158000439

article 158000440

article 208000456

article 208000457

article 208000458

article 208000459

article 208000460

article 208000461

article 208000462

article 208000463

article 208000464

article 208000465

article 208000466

article 208000467

article 208000468

article 208000469

article 208000470

208000446

208000447

208000448

208000449

208000450

208000451

208000452

208000453

208000454

208000455

article 228000306

article 228000307

article 228000308

article 228000309

article 228000310

article 228000311

article 228000312

article 228000313

article 228000314

article 228000315

article 238000291

article 238000292

article 238000293

article 238000294

article 238000295

article 238000296

article 238000297

article 238000298

article 238000299

article 238000300

article 238000301

article 238000302

article 238000303

article 238000304

article 238000305

article 238000306

article 238000307

article 238000308

article 238000309

article 238000310

article 238000311

article 238000312

article 238000313

article 238000314

article 238000315

article 238000316

article 238000317

article 238000318

article 238000319

article 238000320

article 238000321

article 238000322

article 238000323

article 238000324

article 238000325

article 238000326

article 238000327

article 238000328

article 238000329

article 238000330

article 238000331

article 238000332

article 238000333

article 238000334

article 238000335

article 238000336

article 238000337

article 238000338

article 238000339

article 238000340

article 238000341

article 238000342

article 238000343

article 238000344

article 238000345

article 238000346

article 238000347

article 238000348

article 238000349

article 238000350

sumbar-238000276

sumbar-238000277

sumbar-238000278

sumbar-238000279

sumbar-238000280

sumbar-238000281

sumbar-238000282

sumbar-238000283

sumbar-238000284

sumbar-238000285

sumbar-238000286

sumbar-238000287

sumbar-238000288

sumbar-238000289

sumbar-238000290

sumbar-238000291

sumbar-238000292

sumbar-238000293

sumbar-238000294

sumbar-238000295

sumbar-238000296

sumbar-238000297

sumbar-238000298

sumbar-238000299

sumbar-238000300

sumbar-238000301

sumbar-238000302

sumbar-238000303

sumbar-238000304

sumbar-238000305

sumbar-238000306

sumbar-238000307

sumbar-238000308

sumbar-238000309

sumbar-238000310

sumbar-238000311

sumbar-238000312

sumbar-238000313

sumbar-238000314

sumbar-238000315

sumbar-238000316

sumbar-238000317

sumbar-238000318

sumbar-238000319

sumbar-238000320

sumbar-238000321

sumbar-238000322

sumbar-238000323

sumbar-238000324

sumbar-238000325

sumbar-238000326

sumbar-238000327

sumbar-238000328

sumbar-238000329

sumbar-238000330

sumbar-238000331

sumbar-238000332

sumbar-238000333

sumbar-238000334

sumbar-238000335

sumbar-238000336

sumbar-238000337

sumbar-238000338

sumbar-238000339

sumbar-238000340

sumbar-238000341

sumbar-238000342

sumbar-238000343

sumbar-238000344

sumbar-238000345

sumbar-238000346

sumbar-238000347

sumbar-238000348

sumbar-238000349

sumbar-238000350

news-1701