Wakil Bupati Berau, Gamalis.BERAU – Kerusakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Rumah Potong Hewan (RPH) Berau menjadi perhatian serius Wakil Bupati Berau, Gamalis. Fasilitas yang berlokasi di Kecamatan Gunung Tabur itu dinilai membutuhkan penanganan cepat agar aktivitas pemotongan hewan tetap berjalan normal dan kebersihan lingkungan tetap terjaga.
Saat melakukan peninjauan ke RPH Berau, Gamalis menerima laporan mengenai kondisi IPAL yang mengalami kerusakan. Padahal, fasilitas tersebut memiliki fungsi krusial sebagai sistem pengelolaan limbah dari aktivitas pemotongan hewan sebelum dialirkan ke lingkungan sekitar.
Menurutnya, keberadaan IPAL tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan langsung dengan aspek sanitasi dan kesehatan lingkungan.
“IPAL ini sangat penting karena menjadi saluran pembuangan limbah dari kegiatan pemotongan hewan. Ini menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang perlu kita perjuangkan agar bisa masuk dalam APBD Perubahan 2026,” ujar Gamalis.
Tak hanya itu, ia juga mendapat laporan bahwa pompa air yang menjadi penunjang utama operasional RPH turut mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menghambat aktivitas pelayanan jika tidak segera ditangani.
“Ditambah pompa air juga rusak,” katanya.
Gamalis menjelaskan, aktivitas pemotongan hewan di RPH Berau berlangsung setiap hari dengan rata-rata enam ekor sapi dipotong. Tingginya intensitas kegiatan membuat seluruh fasilitas pendukung harus berada dalam kondisi optimal agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
“Jangan sampai kerusakan jadi kendala. Karena aktivitas di sini berjalan setiap hari dan pelayanan kepada masyarakat harus tetap optimal,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala RPH Berau, Nanang Ardhiansyah, mengungkapkan kerusakan IPAL mulai terjadi sejak akhir Ramadan lalu. Saat itu, jumlah pemotongan hewan meningkat tajam sehingga aktivitas di area RPH menjadi lebih padat dari biasanya.
Ia menjelaskan, salah satu bagian IPAL mengalami kerusakan setelah terinjak sapi jenis simental dengan bobot lebih dari satu ton.
“Kerusakan terjadi diinjak sapi simental,” ungkap Nanang.
Akibat kerusakan tersebut, sistem pembuangan limbah tidak lagi bekerja secara maksimal. Dampaknya, kebersihan lingkungan sekitar RPH mulai terganggu dan memicu meningkatnya populasi lalat di kawasan tersebut.
Menurut Nanang, kondisi itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi mengganggu kenyamanan maupun kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
“Ini jadi kendala kita, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Semoga bisa secepatnya dianggarkan,” katanya.
Pihak pengelola berharap perbaikan IPAL dan pompa air dapat segera direalisasikan melalui dukungan anggaran pemerintah daerah. Dengan fasilitas yang kembali berfungsi optimal, operasional RPH diharapkan tetap berjalan lancar sekaligus menjaga standar kebersihan dan kesehatan lingkungan. (*)
Tidak ada komentar