Batik Nusantara untuk Kota Masa Depan, Otorita IKN dan BI Asah Kreativitas Pengrajin Wastra Lokal

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
20 Jun 2026 11:01
3 menit membaca

NUSANTARA – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya berfokus pada hadirnya infrastruktur modern dan teknologi canggih. Di balik transformasi kota masa depan tersebut, upaya membangun identitas budaya juga terus diperkuat, salah satunya melalui pengembangan motif batik khas Nusantara yang lahir dari kreativitas masyarakat lokal.

Komitmen itu diwujudkan melalui Workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra di Ibu Kota Nusantara yang diselenggarakan Otorita IKN bekerja sama dengan Bank Indonesia pada 17–19 Juni 2026 di Kantor Kemenko 1 IKN.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pengrajin wastra di sekitar kawasan IKN untuk menggali inspirasi, menuangkan kreativitas, serta merancang motif batik yang merepresentasikan semangat dan identitas Nusantara sebagai ibu kota baru Indonesia.

Sebanyak sembilan kelompok batik dan wastra dengan total 50 peserta terlibat dalam workshop tersebut. Dari jumlah itu, 30 pengrajin batik mendapatkan pendampingan intensif dalam pengembangan desain dan penciptaan motif yang memiliki nilai artistik sekaligus filosofi yang kuat.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta diajak memahami bahwa batik bukan sekadar produk kerajinan, melainkan media yang mampu menyampaikan cerita, nilai budaya, dan karakter suatu daerah. Mereka dibimbing mulai dari proses pencarian ide melalui metode mind mapping, penyusunan moodboard, eksplorasi elemen visual, hingga penyusunan komposisi dan penyempurnaan desain motif.

Pendampingan diberikan oleh Tepa Selira, pelaku usaha sekaligus pengembang batik yang mendorong para peserta untuk terus berinovasi dan melihat batik sebagai karya budaya yang dinamis serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, mengatakan wastra memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu identitas khas yang melekat pada Nusantara.

“Wastra di sekitar IKN sebenarnya sudah tumbuh dan berkembang. Namun masih diperlukan penguatan agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi dan mampu sejajar dengan berbagai motif batik yang telah dikenal secara nasional,” ujarnya.

Menurut Muhsin, pengembangan motif batik tidak hanya berorientasi pada keindahan visual, tetapi juga harus mampu merepresentasikan cerita, nilai, dan kekayaan budaya yang dimiliki suatu wilayah.

Pandangan serupa disampaikan Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan. Ia menilai, seiring semakin berkembangnya IKN, kebutuhan akan identitas kota yang kuat juga menjadi semakin penting.

“Semakin hari IKN semakin ramai dan berkembang. Karena itu, identitasnya perlu ditampilkan melalui berbagai karya masyarakat. Kami berharap desain yang lahir dari kegiatan ini memiliki sentuhan modern yang selaras dengan semangat transformasi dan digitalisasi yang diusung IKN. Sederhana, elegan, namun tetap memiliki karakter yang kuat,” katanya.

Bagi para peserta, workshop ini membuka perspektif baru dalam memandang dunia batik. Salah seorang pengrajin asal Kecamatan Samboja, Rusmayawati, mengaku memperoleh banyak inspirasi untuk mengembangkan karya yang lebih kreatif dan inovatif.

“Pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi kami agar tidak terpaku pada pola yang sama. Kami belajar bagaimana menuangkan imajinasi tentang IKN ke dalam desain yang memiliki nilai dan bisa terus dikembangkan,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, Otorita IKN dan Bank Indonesia berharap lahir motif-motif batik khas Nusantara yang tidak hanya menjadi produk kreatif bernilai ekonomi, tetapi juga simbol identitas budaya yang tumbuh bersama perkembangan ibu kota baru Indonesia.

Di tengah pesatnya pembangunan, wastra diharapkan menjadi salah satu medium yang menjaga ruh kebudayaan tetap hidup, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan kemajuan masa depan dengan akar tradisi bangsa. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }