Tinggal 21 Kasus, Neni Tantang Kanaan Sapu Bersih Stunting

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
1 Okt 2026 14:42
3 menit membaca

BONTANG — Pemerintah Kota Bontang terus menggenjot upaya menekan angka stunting. Tak sekadar mengejar penurunan persentase, Pemkot Bontang bahkan memasang target ambisius: membawa angka stunting ke level satu digit, hingga mewujudkan zero stunting di wilayah yang kasusnya masih tersisa.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui peluncuran program “Inovasi Cantik” (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kamis (1/10/2026) pagi.

Program ini diluncurkan langsung oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan dihadiri Lurah Kanaan Hermin Della, perwakilan Kecamatan Bontang Barat, HRD & GA Director PT Kaltim Parna Industri (KPI) Budi Dermawan, Kepala BNNK Bontang Lulyana Ramdhani, para ketua RT, kader posyandu, serta sejumlah tamu undangan.

Dalam sambutannya, Neni mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di seluruh Kota Bontang, sebanyak 1.389 anak atau 14,05 persen tercatat masuk kategori stunting.

Angka tersebut menjadi perhatian Pemkot Bontang karena pemerintah menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga berada di bawah 10 persen.

Namun, kondisi di Kelurahan Kanaan dinilai memiliki peluang untuk ditekan lebih jauh. Dari hasil pendataan, terdapat 21 kasus stunting atau sekitar 7,8 persen.

Bagi Neni, angka tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Sebaliknya, sisa kasus yang relatif kecil justru harus menjadi momentum untuk mengejar target yang lebih tinggi.

“Kanaan ini wilayahnya kecil, penduduknya fluktuatif antara 3.000 sampai 5.000 jiwa. Dengan sisa 21 kasus stunting, masa kita tidak bisa selesaikan? Target kita di sini harus zero stunting,” tegas Neni.

Bukan Sekadar Soal Gizi

Neni menekankan, persoalan stunting tidak bisa dilihat hanya dari aspek pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Menurutnya, ada sejumlah faktor lain yang perlu mendapat perhatian serius, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi sejak usia remaja, pencegahan kehamilan dini, hingga kondisi sanitasi lingkungan.

Ia meminta aparatur kelurahan ikut aktif mengawasi kebersihan lingkungan masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah area peternakan yang berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi kronis.

Faktor tersebut, kata Neni, tidak boleh diabaikan karena persoalan kesehatan anak berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh.

Selain pencegahan, Neni juga mengingatkan jajaran kesehatan agar lebih cermat dalam menentukan status stunting. Ia meminta proses diagnosis tidak hanya berpatokan pada tinggi badan anak, tetapi turut mempertimbangkan faktor genetik dan postur tubuh orang tua.

“Stunting itu pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek itu stunting. Lihat juga genetik atau postur orang tuanya. Jangan sampai anak yang sehat dan berat badannya bagus justru salah dimasukkan ke dalam data stunting,” jelasnya.

RT Didorong Aktif Pantau Warga

Untuk memperkuat intervensi di tingkat paling bawah, Pemkot Bontang juga memberikan dukungan kepada aparatur RT melalui insentif bulanan.

Saat ini, ketua RT menerima insentif sebesar Rp2 juta, sedangkan bendahara, sekretaris, dan kader masing-masing memperoleh Rp1 juta.

Dukungan tersebut diharapkan membuat aparatur di tingkat RT tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi ikut aktif memantau kondisi kesehatan masyarakat secara langsung.

Pemantauan dilakukan dengan pendekatan by name, by address, sehingga pemerintah dapat mengetahui kondisi warga secara lebih konkret dan tidak hanya mengandalkan angka statistik.

Neni menegaskan, persoalan kesehatan dan sosial tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.

“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama. Saya mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan di Bontang, seperti PT KPI, yang sudah ikut turun tangan. Kolaborasi ini sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Program Inovasi Cantik selanjutnya akan menjalani masa intervensi selama 56 hari kerja.

Peluncuran program ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk dukungan lintas sektor. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi para kader posyandu.

Dengan 21 kasus yang masih tersisa di Kanaan, Pemkot Bontang kini menghadapi tantangan untuk membuktikan apakah target zero stunting yang dicanangkan Neni dapat diwujudkan melalui intervensi yang terukur dan kolaborasi lintas sektor. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }