Lurah Elis Biantoro (kedua kiri), turun langsung ke Kampung Atas Air Melahing, Bontang, Minggu (26/4/2026).LURAH Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, turun langsung ke Kampung Atas Air Malahing, Bontang, Minggu (26/4/2026), menyusul robohnya bangunan penampungan sampah yang selama ini menjadi tumpuan warga. Kunjungan itu dilakukan tiga hari setelah insiden ambruk, Kamis (23/4/2026) sekira pukul 19.30 Wita.
Di lokasi, Lurah Elis melihat langsung sisa bangunan yang sebagian telah tenggelam ke laut. Ia didampingi Ketua RT 30, Nasir, serta pengelola Bank Sampah Pesisir Unit Malahing. Sejumlah material seperti kayu dan peralatan masih tampak dikumpulkan warga dari reruntuhan.
Peristiwa robohnya fasilitas itu bukan sekadar kerusakan fisik. Sejak bangunan ambruk, warga tidak lagi memiliki tempat penampungan sementara. Sampah rumah tangga kini disimpan di rumah masing-masing sambil menunggu jadwal pengangkutan dari Dinas Lingkungan Hidup yang hanya datang dua kali dalam sebulan.
“Elis menyebut kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut karena berisiko pada kebersihan dan kesehatan lingkungan,” kata dia kepada Pranala.co.
Dari hasil pengecekan di lapangan, bangunan tersebut diketahui berdiri sejak sekira 2018 melalui program CSR perusahaan. Struktur beton yang digunakan, ditambah usia bangunan dan beban yang ditopang, diduga menjadi faktor penyebab ambruk.
Ketua RT 30 Tanjung Laut Indah, Nasir, mengatakan tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah muncul beberapa hari sebelum kejadian. “Bangunan mulai bergoyang saat hujan dan angin kencang. Robohnya habis magrib,” ujarnya.
Selain meninjau penampungan sampah, Elis juga menyempatkan diri melihat aktivitas ekonomi warga pesisir. Di antaranya budidaya dan pengelolaan rumput laut yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat Malahing.
Temuan di lapangan itu menjadi catatan tambahan bagi kelurahan, bahwa persoalan sampah tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan langsung dengan keberlanjutan lingkungan tempat warga menggantungkan hidup.
Untuk langkah lanjutan, kelurahan meminta Ketua RT segera menyusun kebutuhan anggaran pembangunan kembali. Proposal tersebut akan diajukan ke pihak perusahaan, dengan pendampingan langsung dari kelurahan agar prosesnya lebih cepat.
Sementara itu, warga menyatakan siap bergotong royong jika material tersedia. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berupaya menjaga lingkungan dengan memilah sampah dari rumah dan menghindari pembuangan ke laut. [FR]
Tidak ada komentar