Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro memimpin langsung aksi bersih-bersih, Jumat (24/4/2026). [Fahrul/Pranala.co]
TUMPUKAN sampah yang mengepung pesisir Tanjung Laut Indah, Kota Bontang, akhirnya memicu aksi cepat. Lebih dari 100 orang turun tangan membersihkan kawasan itu, Jumat (24/4/2026), menyusul instruksi wali kota dan keluhan warga yang kian intens.
Sejak pukul 07.00 Wita, kawasan Jalan KS Tubun, Gang Kerapu 04 RT 16, di samping Pasar Taman Rawa Indah, dipenuhi warga dan petugas. Mereka datang dari berbagai unsur—kelurahan, kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, aparat, hingga masyarakat setempat.
Di lokasi, sampah terlihat beragam. Plastik berserakan, potongan kayu tersangkut di bibir pantai, hingga limbah rumah tangga bercampur lumpur. Sebagian sudah menumpuk cukup lama, terutama di titik yang menjadi jalur masuk air pasang.
Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, menyebut kondisi ini memang sudah menjadi perhatian. Instruksi pemerintah kota langsung direspons dengan aksi lapangan. “Begitu ada arahan, langsung kami eksekusi,” ujarnya kepada Pranala.co.
Namun, persoalan tidak sesederhana membersihkan. Hasil survei awal menunjukkan sumber sampah tidak tunggal. Selain kiriman dari laut saat pasang, aktivitas warga sekitar juga diduga berkontribusi.

[Fahrul/Pranala.co]
Kondisi ini memperlihatkan dua persoalan yang saling terkait: arus sampah dari luar wilayah dan kebiasaan pembuangan limbah di tingkat lokal. Tanpa penanganan bersamaan, tumpukan serupa berpotensi kembali muncul.
Untuk itu, kelurahan menyiapkan dua pendekatan. Dalam waktu dekat, kerja bakti akan dirutinkan di titik rawan dengan jadwal yang menyesuaikan waktu luang warga. Harapannya, partisipasi masyarakat bisa meningkat dan tidak hanya bergantung pada aksi sesaat.
Di sisi lain, langkah jangka panjang mulai disiapkan. Kelurahan berencana mengajukan dukungan ke pihak perusahaan untuk penyediaan sarana pengendali sampah, termasuk pemasangan jaring di jalur masuk limbah ke pesisir.
Di tengah persoalan tersebut, solidaritas warga terlihat menonjol. Selain terlibat langsung, sebagian warga menyediakan makanan dan minuman bagi peserta kerja bakti, mencerminkan kepedulian yang tumbuh dari lingkungan sendiri.
Lurah Elis melanjutkan aksi bersih ini menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan sampah tidak kembali menguasai pesisir—baik yang datang dari laut maupun yang berasal dari daratan. Tanpa perubahan pola dan pengawasan berkelanjutan, persoalan yang sama berisiko terulang. [FR]
Tidak ada komentar