Senin, 04 Mei 2026

Kerajaan dan Kesultanan Bercorak Islam di Pulau Kalimantan

Suriadi Said
30 Apr 2021 11:38
5 menit membaca

KEDATANGAN Islam di Kalimantan tidak terlepas dari jalur perdagangan di Nusantara. Menurut sejarawan Tome Pires sebagaimana dikutip dalam jurnal Islam di Kalimantan Selatan pada Abad Ke-15 sampai Abad Ke-17, menggambarkan bahwa para pedagang yang berasal dari Kalimantan membutuhkan waktu satu bulan untuk berangkat ke Malaka guna berdagang dan kembali ke Kalimantan dalam waktu satu bulan pula.

Para pedagang dari Malaka menetap setidaknya enam bulan di Kalimantan untuk menunggu angin muson barat dan timur. Selama menetap itulah para pedagang yang juga merupakan cendekiawan Islam turut menyebarkan agama Islam.

Dikutip dari buku Sejarah Indonesia (2014:68), beberapa kerajaan dan kesultanan yan bercorak Islam di Kalimantan antara lain:

1. Kesultanan Pasir (1516)

Dilansir dari website Pemerintah Daerah Kabupatan Paser, Kesultanan Pasir sebelumnya bernama Kerajaan Sadurengas yang dipimpin oleh seorang wanita (Ratu I) bernama Putri Di Dalam Petung. Wilayahnya meliputi Kabupaten Pasir, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan sebagian Provinsi Kalimantan Selatan.

Islamisasi di Kerajaan Pasir dilakukan melalui perdagangan dan perkawinan. Salah satunya yaitu perkawinan antara Putri Di Dalam Petung dengan Abu Masyur Indra Jaya (pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak).

2. Kesultanan Banjar (1526-1905)

Dalam buku Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar karya Sahriansyah (2015:3-5), Pangeran Samudra merupakan raja pertama Kesultanan banjar dengan gelar Sultan Suriansyah dan merupakan raja pertama yang masuk Islam. Sebelumnya Pangeran Samudra dibantu oleh Kerajaan Demak hingga berhasil memperoleh kemenangan atas Kerajaan Negara Daha.

Wilayah Kesultanan Banjar meliputi 5 distrik besar di Kalimantan Selatan yaitu Kuripan (Amuntai), Daha (Nagara Margasari), Gagelang (Alabio), Pudak Sategal (Kalua) dan Pandan Arum (Tanjung). Pada awal abad ke-16 Kesultanan banjar bertindak sebagai wakil Kesultanan Demak di Kalimantan.

3. Kesultanan Kotawaringin (1679)

Dilansir melalui website Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Kerajaan Kotawaringin merupakan pecahan dari Kesultanan Banjar. Pada masa kepemimpinan Sultan Mustainbillah, ia memberikan daerah kekuasaan baru untuk putranya, Pangeran Adipati Antakusuma.

Keraton Kesultanan dibangun pertama kali di Kotawaringin Lama dengan nama Astana Alnusari. Selanjutnya pada tahun 1814 Keraton Kesultanan dipindahkan ke Pangkalan Bun sebagai pusat pemerintahan yang disebut dengan Keraton Kuning atau Indra Kencana.

4. Kerajaan Pagatan (1750)

Raja pertama Kerajaan Pagatan yakni La Pangewa yang digelari Kapiten laut pulo (Pulau laut) oleh Sultan Banjar. Kerajaan Pagatan yang dahulunya diserah-kuasakan oleh Sultan Banjar meliputi sebuah wilayah yang cukup luas.

Namun setelah sistem pemerintahan kerajaan Pagatan dihapuskan oleh Belanda, menjadikan wilayahnya semakin mengecil. Bahkah dewasa ini, Pagatan tak lebih dari sebuah wilayah setingkat desa yang menjadi ibukota kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Kota Baru, propinsi Kalimantan Selatan. Demikian yang tercantum dalam jurnal Strategi Budaya Orang Bugis Pagatan dalam Menjaga Identitas Kebugisan di Tengah Situasi Masyarakat Multikultur.

5. Kesultanan Sambas (1671)

Dalam website Kemendikbud, sekitar tahun 1671, Raden Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas. Raden Sulaiman juga merupakan sultan pertama Kesultanan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas berada di dekat muara Sungai Teberrau yang bernama Lubuk Madung.

6. Kesultanan Kutai Kartanegara (1575)

Kutai Kartanegara mulai menjadi kerajaan Islam sejak 1575 dengan Aji Raja Mahkota Mulia Alam sebagai sultan pertamanya. Sebelumnya kerajaan ini menganut ajaran Hindu.

Berdasarkan website Dinas Pariwisata Pemkab Kutai Kartanegara, pada masa kejayaannya, Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki beberapa wilayah otonom yakni Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kota Balikpapan, Kota Bontang, Kota Samarinda, dan Kecamatan Penajam.

7. Kesultanan Berau (1400)

Dilansir melalui website Pemerintah Kabupaten Berau, kesultanan Berau didirikan sekitar abad ke-14. Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma. Pusat pemerintahannya berada di Sungai Lati.

Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau dengan politik adu domba, sehingga kerajaan terpecah menjadi dua yakni Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur. Ajaran agama Islam masuk ke Berau dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan.

8. Kesultanan Sambaliung (1810)

Kesultanan Sambaliung merupakan pecahan dari Kesultanan Berau. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin.

9. Kesultanan Gunung Tabur (1820)

Sama dengan Kesultanan Sambaliung, Kesultanan Tabur juga merupakan pecahan dari Kesultanan Berau. Sultan Muhammad Zainal Abidin merupakan sultan pertama dari Kesultanan Gunung Tabur.

10. Kesultanan Pontianak (1771)

Menurut jurnal Jejak Sejarah Kesultanan Pontianak karya Firmanto (2012), kesultanan Pontianak dikenal dengan nama Kesultanan Qadriah, karena didirikan oleh dinasti Al-Qadrie. Pendiri kesultanan ini adalah Syarif Abdurrahman Al-Qadrie.

Pada 1768 Abdurrahman Al-Qadrie menikahi putri Raja Banjar bernama Syarifah Anum atau Ratu Syahranum dan memperoleh gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam. Pernikahan ini dimaksudkan untuk memperkuat aliansi politik antara kerajaan Banjar dan Mempawah. Istana Kesultanan Pontianak berada di kawasan tepi Sungai Kapuas yang tidak jauh dari muara Sungai Landak.

11. Kesultanan Tidung (1076)

Kerajaan Tidung diperkirakan ada sejak 1076 masehi. Peralihan islamisasi Kerajaan Tidung dilakukan melalui perkawinan antara Ratu Ikenawai (pimpinan Tidung Kuno terakhir) dengan Amiril Rasyd yang diduga datang dari suku Sulu (kini termasuk wilayah Filipina). Diperkirakan lokasi kerajaan ini berpindah-pindah dari Binalatung di sesisir timur Tarakan ke Tanjung Batu dan Sungai Bidang di pesisir barat.

12. Kesultanan Bulungan (1731)

Dalam website Indonesia.go.id, Kesultanan Bulungan dipimpin oleh Datuk Mencang pada awal masa berdirinya. Wilayah kekuasaannya meliputi Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, Tarakan, hingga Jawi (kini Sabah) Malaysia. Pada tahun 1777 tampuk kekuasaan Kesultanan Bulungan dipegang oleh Wira Amir yang berganti nama menjadi Aji Muhammad setelah memeluk agama Islam. Aji Muhammad kemudian digelari Sultan Amirul Mukminin. **

 

Penulis: Redaksi

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 710000011

article 710000012

article 710000013

article 710000014

article 710000015

article 710000016

article 710000017

article 710000018

article 710000019

article 710000020

article 710000021

article 710000022

article 710000023

article 710000024

article 710000025

article 710000026

article 710000027

article 710000028

article 710000029

article 710000030

article 710000031

article 710000032

article 710000033

article 710000034

article 710000035

article 710000036

article 710000037

article 710000038

article 710000039

article 710000040

article 710000041

article 710000042

article 710000043

article 710000044

article 710000045

article 710000046

article 710000047

article 710000048

article 710000049

article 710000050

article 710000051

article 710000052

article 710000053

article 710000054

article 710000055

article 710000056

article 710000057

article 710000058

article 710000059

article 710000060

kasus 898100001

kasus 898100002

kasus 898100003

kasus 898100004

kasus 898100005

kasus 898100006

kasus 898100007

kasus 898100008

kasus 898100009

kasus 898100010

kasus 898100011

kasus 898100012

kasus 898100013

kasus 898100014

kasus 898100015

kasus 898100016

kasus 898100017

kasus 898100018

kasus 898100019

kasus 898100020

kasus 898100021

kasus 898100022

kasus 898100023

kasus 898100024

kasus 898100025

kasus 898100026

kasus 898100027

kasus 898100028

kasus 898100029

kasus 898100030

kasus 898100031

kasus 898100032

kasus 898100033

kasus 898100034

kasus 898100035

kasus 898100036

kasus 898100037

kasus 898100038

kasus 898100039

kasus 898100040

cuaca 898100001

cuaca 898100002

cuaca 898100003

cuaca 898100004

cuaca 898100005

cuaca 898100006

cuaca 898100007

cuaca 898100008

cuaca 898100009

cuaca 898100010

cuaca 898100011

cuaca 898100012

cuaca 898100013

cuaca 898100014

cuaca 898100015

cuaca 898100016

cuaca 898100017

cuaca 898100018

cuaca 898100019

cuaca 898100020

cuaca 898100021

cuaca 898100022

cuaca 898100023

cuaca 898100024

cuaca 898100025

cuaca 898100026

cuaca 898100027

cuaca 898100028

cuaca 898100029

cuaca 898100030

cuaca 898100031

cuaca 898100032

cuaca 898100033

cuaca 898100034

cuaca 898100035

cuaca 898100036

cuaca 898100037

cuaca 898100038

cuaca 898100039

cuaca 898100040

article 868000011

article 868000012

article 868000013

article 868000014

article 868000015

article 868000016

article 868000017

article 868000018

article 868000019

article 868000020

article 868100021

article 868100022

article 868100023

article 868100024

article 868100025

article 868100026

article 868100027

article 868100028

article 868100029

article 868100030

article 868100031

article 868100032

article 868100033

article 868100034

article 868100035

article 868100036

article 868100037

article 868100038

article 868100039

article 868100040

article 868100041

article 868100042

article 868100043

article 868100044

article 868100045

article 868100046

article 868100047

article 868100048

article 868100049

article 868100050

article 868100051

article 868100052

article 868100053

article 868100054

article 868100055

article 868100056

article 868100057

article 868100058

article 868100059

article 868100060

article 878000011

article 878000012

article 878000013

article 878000014

article 878000015

article 878000016

article 878000017

article 878000018

article 878000019

article 878000020

article 878800021

article 878800022

article 878800023

article 878800024

article 878800025

article 878800026

article 878800027

article 878800028

article 878800029

article 878800030

article 878800031

article 878800032

article 878800033

article 878800034

article 878800035

article 878800036

article 878800037

article 878800038

article 878800039

article 878800040

article 888000031

article 888000032

article 888000033

article 888000034

article 888000035

article 888000036

article 888000037

article 888000038

article 888000039

article 888000040

article 888000041

article 888000042

article 888000043

article 888000044

article 888000045

article 888000046

article 888000047

article 888000048

article 888000049

article 888000050

article 888000051

article 888000052

article 888000053

article 888000054

article 888000055

article 888000056

article 888000057

article 888000058

article 888000059

article 888000060

article 888000061

article 888000062

article 888000063

article 888000064

article 888000065

article 888000066

article 888000067

article 888000068

article 888000069

article 888000070

article 328000601

article 328000602

article 328000603

article 328000604

article 328000605

article 328000606

article 328000607

article 328000608

article 328000609

article 328000610

article 328000611

article 328000612

article 328000613

article 328000614

article 328000615

article 328000616

article 328000617

article 328000618

article 328000619

article 328000620

article 328000621

article 328000622

article 328000623

article 328000624

article 328000625

article 328000626

article 328000627

article 328000628

article 328000629

article 328000630

article 328000631

article 328000632

article 328000633

article 328000634

article 328000635

article 328000636

article 328000637

article 328000638

article 328000639

article 328000640

article 328000641

article 328000642

article 328000643

article 328000644

article 328000645

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 999990001

article 999990002

article 999990003

article 999990004

article 999990005

article 999990006

article 999990007

article 999990008

article 999990009

article 999990010

article 999990011

article 999990012

article 999990013

article 999990014

article 999990015

article 999990016

article 999990017

article 999990018

article 999990019

article 999990020

news-1701