Bank Indonesia Balikpapan Perkuat Ekonomi Pesantren Lewat Program Budidaya Ayam Petelur

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
6 Agu 2026 13:33
3 menit membaca

BALIKPAPAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan bersama Baznas Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah daerah terus memperkuat upaya pengendalian inflasi sekaligus membangun ketahanan pangan melalui pengembangan usaha budidaya ayam petelur di lingkungan pondok pesantren dan kelompok usaha masyarakat.

Program tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Pengelolaan Usaha Budidaya Ayam Petelur Tahun 2026 yang berlangsung pada 3–8 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola usaha peternakan secara profesional, produktif, dan berkelanjutan.

Selain memberikan pelatihan, Bank Indonesia Balikpapan bersama Baznas Kaltim juga memfasilitasi penyediaan sarana dan prasarana budidaya ayam petelur kepada sejumlah pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

Workshop dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, setelah diawali sambutan Wakil Ketua III Baznas Provinsi Kalimantan Timur, Badrus Syamsi, yang mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi pesantren.

Menurut Badrus, kolaborasi antara Bank Indonesia dan Baznas telah memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha produktif.

“Kami berharap sinergi ini terus berkembang sehingga mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap kesejahteraan umat,” ujarnya.

Sementara itu, Robi Ariadi menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Sebagai bank sentral, kata dia, Bank Indonesia tidak hanya bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga berperan aktif mengendalikan inflasi melalui penguatan sektor riil, khususnya peningkatan produksi komoditas pangan strategis.

Ia menjelaskan, telur ayam menjadi salah satu komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser.

Saat ini kebutuhan telur di wilayah tersebut masih banyak dipenuhi dari luar Kalimantan Timur. Karena itu, peningkatan produksi lokal dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain.

“Melalui workshop ini kami berharap peserta memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis sehingga mampu mengelola usaha ayam petelur secara profesional di daerah masing-masing,” kata Robi.

Workshop tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, praktisi peternakan, pelaku usaha, hingga Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai lokasi praktik lapangan.

Pesantren tersebut dipilih karena telah berhasil mengembangkan usaha ayam petelur secara produktif setelah memperoleh dukungan sarana dan prasarana dari Bank Indonesia Balikpapan dan Baznas Kaltim pada 2025.

Saat ini hasil produksi telur dari pesantren tersebut telah memasok kebutuhan sejumlah restoran dan kafe di Kota Balikpapan.

Pada hari pertama pelatihan yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, peserta mendapatkan materi mengenai prospek bisnis ayam petelur, rantai pasok, peluang pasar, dasar-dasar budidaya, manajemen kandang, hingga faktor-faktor penentu keberhasilan usaha peternakan.

Selanjutnya, selama lima hari peserta mengikuti program pembelajaran intensif di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari melalui pendekatan blended learning yang mengombinasikan teori dan praktik langsung di kandang.

Materi yang dipelajari mencakup manajemen produksi telur, formulasi pakan, sanitasi kandang, pengendalian penyakit, vaksinasi, strategi pemasaran, hingga penyusunan rencana bisnis (business plan).

Peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke salah satu peternakan ayam petelur yang telah berhasil di Balikpapan untuk mempelajari praktik terbaik dalam pengelolaan usaha.

Di akhir pelatihan, setiap peserta diwajibkan menyusun dan mempresentasikan proposal bisnis sebagai bentuk implementasi seluruh materi yang telah diperoleh.

Melalui program tersebut, Bank Indonesia Balikpapan berharap lahir lebih banyak pelaku usaha peternakan ayam petelur yang mampu meningkatkan produksi lokal, memperkuat ketahanan pangan, mendukung pengendalian inflasi, sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi pesantren di Kalimantan Timur. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }