Karhutla Masih Membara, Kaltim Hadapi Ancaman Kabut Asap dan ISPA

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
5 Okt 2026 20:52
3 menit membaca

SAMARINDA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi ini mulai berdampak langsung terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat, dengan kualitas udara di Kabupaten Kutai Barat bahkan masuk kategori berbahaya berdasarkan parameter PM2,5.

Asap pekat dilaporkan menyelimuti sejumlah daerah, mulai dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, Berau, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara hingga Kutai Barat.

Di Balikpapan, kabut asap terasa dalam sepekan terakhir. Meski kualitas udara masih berada pada kategori sedang, kondisi langit pada pagi hari membuat sebagian warga merasa tidak nyaman.

“Ini situasinya sudah parah. Dulu, karhutla pada 2019 tidak pernah ada kabut asap seperti ini. Sekarang, langit sepanjang hari seperti mendung,” kata Oktavia (35), warga Balikpapan Utara, Senin (5/10/2026).

Situasi lebih mengkhawatirkan dirasakan warga Kutai Barat. Kabut asap yang masuk ke permukiman membuat sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.

Lun Utari (29), warga Kutai Barat, mengatakan keluarganya lebih banyak berada di dalam kamar yang menggunakan penyejuk ruangan untuk menghindari paparan asap.

Menurut dia, asap tetap dapat masuk ke rumah melalui pintu maupun ventilasi udara. Kondisi tersebut terutama terasa pada pagi dan sore hari ketika kabut asap semakin pekat.

“Setidaknya, ketika kami sesak napas, kami bisa berlindung di sana sampai kabut asap mereda. Kalau pagi dan sore, pekat sekali di kampung kami,” ujarnya.

Lun berharap pemerintah menyediakan fasilitas rumah aman asap sebagai tempat perlindungan sementara bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.

Luasan Karhutla Melonjak

Kabut asap yang melanda sejumlah daerah diduga merupakan akumulasi kebakaran yang terjadi di wilayah Kaltim. Kondisi tersebut juga diperparah asap kiriman dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menunjukkan skala kebakaran terus membesar.

Hingga 3 Oktober 2026, luas area yang terbakar di Kaltim telah mencapai 7.712,44 hektare.

Angka tersebut melonjak lebih dari 5.000 hektare dibandingkan catatan Juli 2026 yang berada di angka 2.715,76 hektare.

Ancaman karhutla juga masih terbuka karena kondisi cuaca belum sepenuhnya mendukung pemulihan. Berdasarkan prakiraan curah hujan kumulatif periode 1–10 Oktober 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah.

Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dan pemantauan titik api terus dilakukan.

Selain mengandalkan tim darat, operasi pemadaman dari udara juga dikerahkan. Helikopter water bombing terlihat melakukan penyiraman di sejumlah lokasi, termasuk di wilayah Balikpapan.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan penanganan karhutla dilakukan melalui pemadaman, pemantauan titik api serta koordinasi lintas sektor.

“Masyarakat diimbau menggunakan masker dan tetap waspada terhadap karhutla,” ujarnya.

ISPA Mulai Meningkat

Dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian pemerintah. Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim mengoptimalkan layanan kesehatan melalui 188 puskesmas dan puluhan rumah sakit yang tersebar di wilayah Kaltim.

Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Data Dinas Kesehatan Kaltim mencatat terdapat 9.499 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pekan ke-37 2026 dalam periode karhutla dan kabut asap.

Dari total tersebut, sebanyak 1.504 kasus tercatat berada di Kabupaten Kutai Barat.

Data Dinas Kesehatan Kutai Barat juga menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Juni 2026, kasus ISPA tercatat sebanyak 194 kasus. Jumlah tersebut meningkat menjadi 417 kasus pada September 2026.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat, Barnabas, mengatakan sebagian warga yang sebelumnya menjalani perawatan akibat ISPA telah diperbolehkan pulang. Sebagian lainnya masih menjalani perawatan jalan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya mereda. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus melakukan penanganan karhutla sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Dengan luasan kebakaran yang terus bertambah dan kualitas udara yang memburuk di sejumlah wilayah, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat serta menggunakan masker sebagai perlindungan tambahan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }