Inflasi Kaltim Naik, El Nino Mulai Tekan Pasokan Pangan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
5 Okt 2026 20:42
4 menit membaca

SAMARINDA – Laju inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) masih berada dalam kondisi terkendali, meski tekanan harga kembali meningkat pada September 2026. Inflasi bulanan tercatat 0,18 persen, naik dibandingkan Agustus yang berada di level 0,10 persen.

Kenaikan tersebut membuat inflasi Kaltim secara kumulatif sejak awal tahun mencapai 2,82 persen, sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy) berada di angka 3,98 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, mengatakan tekanan inflasi sepanjang September terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Menurutnya, tekanan pada sektor pangan tidak terlepas dari persoalan pasokan akibat kondisi cuaca dan fenomena El Nino yang terjadi di sejumlah sentra produksi.

“Tekanan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dipengaruhi keterbatasan pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi akibat kondisi cuaca dan fenomena El Nino,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Dampak kekeringan, lanjut Jajang, mulai terasa terhadap produktivitas sejumlah komoditas pangan dan hortikultura. Cabai dan beras menjadi beberapa komoditas yang ikut terdampak kondisi tersebut.

Seluruh Wilayah Pembentuk IHK Mengalami Inflasi

Tekanan harga tidak hanya terjadi di satu wilayah. Seluruh daerah yang menjadi pembentuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim tercatat mengalami inflasi pada September.

Kabupaten Berau mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,61 persen, disusul Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 0,52 persen.

Sementara itu, inflasi Kota Samarinda tercatat 0,09 persen dan Kota Balikpapan sebesar 0,08 persen.

Dari sisi komoditas, kenaikan harga cabai rawit, bayam, kangkung, tomat dan jagung manis menjadi penyumbang utama tekanan inflasi Kaltim sepanjang September.

Namun, tekanan tersebut masih tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas lainnya. Beberapa di antaranya ikan layang, angkutan udara, ikan tongkol, bahan bakar rumah tangga dan daging ayam ras.

TPID Perkuat Strategi 4K

Menghadapi tekanan harga tersebut, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Kaltim.

Strategi yang diterapkan mengacu pada konsep 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif.

Pada aspek keterjangkauan harga, sepanjang September TPID menggelar Gerakan Pangan Murah serta memperluas penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Program tersebut dilaksanakan di sejumlah daerah, termasuk Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat dan Kutai Timur.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pangan strategis dengan harga yang terjangkau, khususnya ketika sejumlah komoditas mengalami tekanan akibat gangguan pasokan.

Dari sisi ketersediaan, TPID bersama Perum Bulog dan sejumlah pemangku kepentingan terus memastikan kebutuhan komoditas strategis tetap terpenuhi.

Hingga September 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 80 persen.

Pertanian Didorong Hadapi Dampak Kekeringan

Upaya menjaga pasokan juga dilakukan dengan mendorong peningkatan produksi pangan melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern.

Pemerintah daerah turut mengoptimalkan pompa portabel pada lahan persawahan yang terdampak kekeringan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko penurunan produksi akibat kondisi cuaca.

Sementara pada aspek distribusi, TPID memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan rantai pasok komoditas strategis tetap berjalan tanpa hambatan.

Pemantauan stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di SPBU terus dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut rapat koordinasi pengendalian inflasi.

Pemerintah daerah juga terus mendorong perbaikan akses jalan menuju Kabupaten Mahakam Ulu. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk memperlancar arus distribusi barang dan kebutuhan pokok ke wilayah yang memiliki tantangan geografis cukup besar.

Komunikasi Diperkuat untuk Antisipasi Inflasi

Pengendalian inflasi juga diperkuat melalui komunikasi dan koordinasi antarlembaga. TPID secara rutin mengikuti rapat koordinasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri serta menyampaikan laporan pemantauan dini perkembangan inflasi melalui forum TPID.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan setiap potensi tekanan harga dapat diantisipasi lebih awal.

Jajang mengatakan, sinergi antarpemangku kepentingan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Ke depan, TPID se-Kaltim akan memperkuat mitigasi dini melalui penerapan strategi 4K secara konsisten, termasuk penguatan program pengendalian inflasi dan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS).

Dengan berbagai langkah tersebut, stabilitas harga di Kaltim diharapkan tetap terjaga di tengah tantangan pasokan pangan dan kondisi cuaca. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan aktivitas ekonomi daerah tetap tumbuh secara berkelanjutan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }