Kondisi karhutla di Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badah, Kutai Kartanegara, Sabtu (28/3/2026) (Dok: BPBD Kukar)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) menyusul meningkatnya jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir, terutama sejak Selasa (21/4) hingga Kamis (23/4).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, mengatakan kondisi cuaca panas menjadi pemicu utama munculnya hotspot di berbagai wilayah.
“Cuaca dalam beberapa hari terakhir memang panas, sehingga kondisi ini kemudian memicu munculnya banyak titik panas,” ujar Carolina dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Pada Selasa (21/4), BMKG mencatat sebanyak 55 titik panas tersebar di delapan kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Sebarannya meliputi Balikpapan dua titik, Bontang satu, Paser tujuh, Penajam Paser Utara dua, Kutai Barat tujuh, Kutai Timur 13, Kutai Kartanegara 21, dan Berau dua titik.
Jumlah tersebut meningkat signifikan pada Rabu (22/4) menjadi 81 titik panas yang tersebar di tujuh daerah. Kutai Timur mencatat angka tertinggi dengan 37 titik, disusul Paser 14 titik, Kutai Kartanegara 13 titik, Berau 11 titik, Balikpapan tiga titik, Bontang dua titik, dan Kutai Barat satu titik.
Sementara itu, hingga Kamis (23/4) pukul 16.00 Wita, jumlah titik panas yang terdeteksi mencapai 23 titik di lima wilayah, yakni Balikpapan tiga titik, Bontang satu titik, Kutai Timur 10 titik, Kutai Kartanegara enam titik, dan Berau tiga titik.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok yang masih menyala. Kondisi lahan kering membuat api mudah merambat, terutama di kawasan hutan dan perkebunan.
Selain itu, BMKG juga mengimbau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait untuk segera memverifikasi titik panas yang terdeteksi. Langkah ini penting untuk memastikan apakah hotspot tersebut berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan.
“Tim BPBD bersama unsur terkait saat datang ke lokasi biasanya sudah bisa memastikan apakah titik panas ini rawan menyebabkan karhutla atau tidak. Jika rawan, maka mereka langsung melakukan penanganan,” kata Carolina.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait, seperti Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, dan Dinas Pemadam Kebakaran, juga diharapkan meningkatkan sosialisasi kepada petani dan pekebun agar melakukan langkah pencegahan dini. Upaya ini dinilai krusial untuk menekan risiko karhutla di tengah tren peningkatan titik panas akibat cuaca panas yang masih berlangsung. [DIAS/RIL]
Tidak ada komentar