Kemarau Panjang Mengancam Pakan Ternak, Peternak Kaltim Diminta Siapkan Cadangan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
8 Sep 2026 19:16
3 menit membaca

SAMARINDA – Ancaman kemarau berkepanjangan mulai menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Bukan hanya berdampak pada pertanian, kondisi kering juga berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha peternakan, terutama akibat berkurangnya pakan hijauan dan sumber air.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim pun meminta peternak meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini, khususnya bagi peternak sapi, kambing dan domba.

Kepala DPKH Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan kemarau dapat langsung memengaruhi dua kebutuhan paling vital bagi ternak, yakni pakan dan air minum.

Menurutnya, ketika kekeringan berlangsung, produksi hijauan pakan cenderung turun. Rumput di lahan penggembalaan menjadi lebih kering, berserat tinggi dan kehilangan sebagian kandungan nutrisinya.

“Kekeringan menyebabkan produksi pakan hijauan segar menurun drastis. Rumput di padang penggembalaan menjadi lebih kering, berserat tinggi dan kandungan nutrisinya rendah,” ujar Arief di Samarinda, baru-baru ini.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius jika peternak tidak memiliki stok pakan alternatif. Kekurangan pakan berkualitas dapat membuat asupan nutrisi ternak menurun dan pada akhirnya berdampak terhadap produktivitas.

Bukan Hanya Pakan, Air Juga Terancam

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan air.

Memasuki periode kering, debit sejumlah sumber air seperti sumur, sungai dan embung dapat mengalami penurunan. Jika kemarau berlangsung panjang, peternak akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air minum ternak.

Arief mengingatkan, kekurangan pakan dan air tidak boleh dianggap sepele. Ternak yang mengalami kekurangan nutrisi dan cairan berisiko mengalami penurunan bobot badan, produksi susu menurun, stres hingga gangguan kesehatan.

Karena itu, DPKH Kaltim mendorong peternak mulai membangun cadangan pakan sebelum kondisi semakin sulit.

Cadangan tersebut dapat berupa silase, hay maupun pakan fermentasi yang dapat digunakan ketika hijauan segar mulai sulit diperoleh.

Limbah hasil pertanian juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif. Namun, pemanfaatannya tetap harus memperhatikan keamanan serta kebutuhan nutrisi ternak agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi kesehatan hewan.

Selain itu, peternak disarankan mulai menanam jenis hijauan pakan yang lebih mampu beradaptasi terhadap kondisi kering sebagai langkah jangka panjang.

Tandon dan Embung Jadi Cadangan Air

Untuk mengantisipasi berkurangnya sumber air, peternak juga diminta menyiapkan tempat penampungan air.

Tandon, embung maupun kolam penampungan dapat menjadi cadangan ketika sumber air utama mengalami penurunan debit.

Langkah tersebut dinilai penting karena kebutuhan air ternak tidak dapat ditunda. Ketersediaan air harus tetap dijaga meskipun kondisi lingkungan semakin kering.

“Pemantauan terhadap kondisi fisik ternak serta ketersediaan pakan dan air juga perlu dilakukan secara rutin. Dengan begitu, apabila terjadi penurunan kondisi ternak, dapat segera ditangani,” jelas Arief.

Menurutnya, mitigasi tidak seharusnya dilakukan setelah dampak kemarau mulai terasa. Peternak justru perlu mempersiapkan kebutuhan ternak sejak awal agar tidak menghadapi krisis pakan maupun air ketika kondisi semakin kering.

“Yang paling penting adalah kesiapan peternak. Dengan melakukan mitigasi sejak awal, kita dapat menjaga kesehatan dan produktivitas ternak meskipun kondisi cuaca semakin tidak menentu,” pungkasnya.

Kesiapan tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas ternak sekaligus memastikan usaha peternakan di Kaltim tetap berjalan di tengah ancaman perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }