38 Embung dan Puluhan Sungai Disiapkan Kutim Antisipasi Kemarau Panjang

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
10 Jul 2026 18:26
3 menit membaca

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño 2026. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan seluruh sumber air pertanian, mulai dari embung, bendungan, sumur bor, hingga aliran sungai yang selama ini menjadi penopang sektor pangan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian tetap terpenuhi sehingga produksi pangan, khususnya padi dan hortikultura, dapat terus terjaga meski menghadapi risiko kekeringan.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengatakan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah membahas berbagai langkah strategis dalam menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih panas tahun ini.

“Sebagai antisipasi, Forkopimda sudah membahas langkah strategis dan pemetaan sumber air, terutama untuk memastikan ketersediaan air di kawasan pertanian hortikultura maupun padi sawah,” ujarnya di Sangatta, Jumat (10/7/2026).

Menurut Ardiansyah, pemetaan sumber air harus dilakukan secara rinci hingga tingkat desa agar pemerintah dapat mengetahui kondisi riil di lapangan dan menyusun strategi penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Data sementara menunjukkan Kabupaten Kutai Timur memiliki 38 embung yang telah beroperasi dan dimanfaatkan sebagai sumber air pertanian di berbagai kecamatan. Infrastruktur tersebut tersebar di kawasan Kaliorang, Kaubun, Kongbeng, Long Mesangat, serta sejumlah desa yang mengandalkan sistem pertanian tadah hujan.

Selain embung, Kutim juga memiliki satu sumur strategis yang dibangun dengan dukungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda.

Ketersediaan air pertanian di daerah ini turut ditopang sejumlah bendungan besar yang berada di kawasan Kaubun, Kongbeng, dan Long Mesangat, serta jaringan irigasi teknis di Kecamatan Kaliorang yang mampu mengairi sekitar 1.300 hektare lahan persawahan.

Tidak hanya itu, Kutai Timur juga memiliki lebih dari 50 aliran sungai dengan 14 sungai utama yang selama ini menjadi sumber air penting bagi pertanian, perkebunan, hingga kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Salah satu yang terbesar adalah Sungai Kedang Kepala dengan panjang mencapai 319 kilometer yang membentang dari wilayah Kutai Kartanegara hingga Kutai Timur.

Selain Sungai Kedang Kepala, terdapat Sungai Sangatta, Wahau, Kelinjau, Bengalon, Kaubun, Penyarai, Antan, Massabang, Senambah, Bendili, Telen, Ngayau, dan Makanying yang selama ini menjadi penopang berbagai aktivitas masyarakat.

Ardiansyah menegaskan bahwa akurasi data lapangan menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan yang tepat guna menjaga ketahanan pangan daerah.

“Data yang akurat sangat diperlukan agar langkah yang diambil benar-benar sesuai kondisi di lapangan dan mampu mendukung upaya menjaga produksi pangan,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian sistem irigasi dan pompanisasi pertanian di Kutim masih bergantung pada aliran sungai. Sementara wilayah lainnya memanfaatkan bendungan dan embung yang berfungsi menampung cadangan air untuk menghadapi musim kemarau.

Menurutnya, keberadaan infrastruktur air tersebut sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan air pertanian saat curah hujan menurun.

Di sisi lain, kawasan karst seperti Sekerat dan Kaliorang memiliki karakteristik berbeda karena masih ditopang oleh aliran sungai bawah tanah dan mata air pegunungan yang menjadi sumber air tambahan bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Karena itu, pemerintah daerah menilai kawasan tersebut perlu terus dijaga kelestariannya agar tetap mampu menopang kebutuhan air di masa mendatang.

Dengan pemetaan yang lebih terukur dan dukungan berbagai sumber air yang tersedia, Pemkab Kutai Timur optimistis sektor pertanian tetap dapat berproduksi secara optimal meski menghadapi ancaman kekeringan akibat El Niño, sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah tetap kuat sepanjang musim kemarau. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }