Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni berfoto bersama 60 peserta Workshop Pembuatan Film Pendek untuk Pelajar, para narasumber, serta jajaran instansi terkait. (Newsborneo)BONTANG – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mendorong pelajar di Kota Bontang memanfaatkan film sebagai media promosi budaya dan potensi lokal daerah.
Pesan itu disampaikan Neni saat membuka Workshop Pembuatan Film Pendek untuk Pelajar Kota Bontang, Senin (18/5/2026), di Gedung Mini Teater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang.
Kegiatan yang berlangsung hingga 20 Mei itu diikuti 60 pelajar SMA dan SMK se-Kota Bontang. Workshop tersebut diinisiasi komunitas Sineas Besai Berinta bersama Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang.
Dalam sambutannya, Neni mengaku sempat menjadi penggemar drama Korea atau drakor. Dari sana, ia melihat bagaimana industri film mampu memengaruhi budaya hingga memperkenalkan kuliner suatu negara ke dunia internasional.
“Sekarang makanan Korea hampir ada di seluruh dunia. Itu gara-gara drama Korea,” ujarnya.
Menurut Neni, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan budaya dan kuliner yang jauh lebih beragam dibanding negara lain. Karena itu, ia meminta pelajar membuat film yang mengangkat identitas lokal Indonesia.
“Tonjolkan budaya Indonesia, makanannya Indonesia supaya mendunia. Jangan jadi plagiat atau duplikat,” katanya.
Ia bahkan mencontohkan makanan tradisional seperti gudeg, combro, hingga misro yang dinilai punya potensi dikenal luas jika dikemas melalui karya visual yang menarik.
Tak hanya budaya dan kuliner, Neni juga menilai Indonesia memiliki kekuatan dalam genre film horor karena kaya cerita rakyat dan unsur lokal.
“Film horor Indonesia itu lebih menyeramkan dibanding luar. Potensinya besar,” ucapnya.
Menurut dia, workshop tersebut bukan sekadar pelatihan teknis membuat film, tetapi menjadi langkah awal membangun industri kreatif di Kota Bontang.
Ia berharap para peserta nantinya mampu menghasilkan karya orisinal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru di bidang perfilman.
“Harapannya anak-anak Bontang bisa mandiri, sukses, dan menciptakan karya film sendiri,” tandasnya.
Workshop tersebut menghadirkan enam narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi perfilman. Mulai dari materi penyutradaraan, penulisan naskah, editing, hingga fotografi.
Selain praktisi lokal, kegiatan itu juga menghadirkan narasumber dari Universitas Jember, yakni Kepala Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Muhammad Zamroni dan Ali Alfian.
Penulis (DN)
Tidak ada komentar