Penderita HIV di Kukar Bertambah, Program Jemput Bola Terus Digencarkan

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
20 Jul 2026 19:28
3 menit membaca

TENGGARONG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) terus mengalami peningkatan. Hingga Juni 2026, total kasus kumulatif yang tercatat mencapai 542 orang, bertambah dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 451 kasus.

Meski demikian, Dinkes Kukar menegaskan peningkatan angka tersebut tidak selalu mencerminkan bertambahnya penularan baru, melainkan juga karena sistem pencatatan kumulatif yang tetap memasukkan pasien HIV yang masih menjalani pengobatan.

Pengelola Program HIV Dinkes Kukar, Masliana, menjelaskan sebagian besar kasus yang ditemukan didominasi oleh laki-laki, khususnya dari kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).

“Karena kasus HIV lebih banyak ditemukan pada laki-laki, khususnya kelompok LSL, maka kelompok ini menjadi salah satu sasaran utama dalam program skrining dan layanan pencegahan,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Dinkes Kukar telah menyediakan layanan Profilaksis Pra Pajanan (PrEP) bagi kelompok berisiko tinggi yang telah dipastikan negatif HIV melalui pemeriksaan kesehatan.

Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan risiko penularan HIV pada kelompok rentan sekaligus memperluas akses layanan kesehatan yang lebih preventif.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan semata-mata menurunkan angka kumulatif kasus, melainkan memastikan setiap kasus dapat ditemukan sedini mungkin sehingga pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Menurutnya, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV, semakin besar peluang untuk menjaga kualitas hidup melalui terapi yang teratur.

“Target kami adalah menemukan kasus sedini mungkin agar pasien bisa segera mendapatkan pengobatan dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan,” jelas Ismi.

Ia mengungkapkan capaian penemuan kasus HIV di Kukar berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) telah mencapai 100 persen. Selain itu, Dinkes juga bekerja sama dengan LSM Mahakam Plus untuk mendampingi pasien agar tetap disiplin menjalani terapi antiretroviral (ARV) dan melakukan pemeriksaan viral load secara berkala.

Upaya deteksi dini dilakukan melalui pendekatan jemput bola. Petugas kesehatan bersama puskesmas turun langsung ke lapangan untuk memberikan layanan skrining kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV.

“Yang kami lakukan adalah mencari kelompok berisiko agar dapat terdeteksi lebih awal, sehingga apabila hasilnya positif dapat segera diobati dan dipantau,” katanya.

Meski berbagai program telah berjalan, Dinkes Kukar masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengendalian HIV. Salah satunya adalah masih adanya pasien yang tidak melanjutkan pengobatan secara rutin sehingga pengendalian virus di dalam tubuh menjadi kurang optimal.

Padahal hingga saat ini HIV belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Pengobatan antiretroviral berfungsi menekan jumlah virus agar kualitas hidup pasien tetap baik sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

“Karena itu, kami terus mendorong dan memotivasi para pasien untuk tetap disiplin menjalani pengobatan,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah mobilitas pasien yang berpindah tempat tinggal tanpa informasi yang jelas. Kondisi tersebut kerap menyulitkan petugas dalam melakukan pemantauan lanjutan maupun penelusuran kontak apabila diperlukan.

Ismi juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif mendukung upaya pengendalian HIV dengan menghilangkan stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Menurutnya, diskriminasi dan stigma sosial justru dapat membuat penderita enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

“Dukungan masyarakat sangat penting. Jangan sampai stigma menjadi penghalang bagi ODHA untuk mendapatkan layanan kesehatan dan menjalani pengobatan secara optimal,” pungkasnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }