Mengenang Memori Indah PKT Bontang; Bintang Besar Sepak Bola Nasional dari Bukit Tursina

Redaksi
10 Apr 2021 15:58
5 menit membaca

BONTANG – Jauh sebelum kompetisi profesional bergulir, Kalimantan punya klub jebolan kompetisi Galatama yang sangat ditakuti di kancah sepak bola Indonesia, yakni PKT Bontang. Punya kapasitas membuat kejutan dan melahirkan pemain berkualitas di Tanah Air membuat klub yang dijuluki Laskar Bukit Tursina ini begitu ditakuti lawan pada masanya.

Sejarah panjang klub ini dimulai pada medio akhir tahun 70-an, tepatnya pada era kompetisi sepak bola semi-profesional Galatama dan amatir bergulir. Mereka perlahan menjadi klub mandiri yang memiliki neraca keuangan stabil lantaran disokong perusahaan besar Pupuk kalimantan Timur, berbeda dengan beberapa klub Galatama yang mesti gulung tikar seperti, Warna Agung sampai Krama Yudha Tiga Berlian.

Geliat PKT Bontang mulai terlihat pada saat kompetisi Galatama 1989/1990. Mereka tampil sangat baik dalam ajang tersebut dan berhasil mengakhiri kompetisi di peringkat tiga. Setelah itu, Mereka berturut-turut selalu masuk final pada dua edisi selanjutnya. Hanya saja, tak sekali pun gelar berhasil mereka raih dalam kurun waktu itu dan harus puas sebagai runner up.

Pada musim perdana peleburan kompetisi Perserikatan dan Galatama atau Liga Indonesia 1994/1995 PKT kembali membuat kejutan hingga melangkah ke babak delapan besar. Hanya saja, langkah mereka terhenti pada babak semifinal usai takluk dari seterunya Petrokimia Putra dalam kompetisi yang saat itu dimenangkan oleh Persib.

Puncaknya, kejutan kembali dilakukan PKT saat Liga Indonesia musim 1999/2000. Mereka hampir membuat sejarah dengan menjadi kampiun andai tak kalah dari PSM 3-2 pada babak final yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu.

Usai itu, perlahan prestasi PKT terus menurun. Pada 2009 tim sudah tak disokong lagi Pupuk Kalimantan Timur dan berganti nama jadi Bontang FC hingga menghadapi kesulitan keuangan. Puncaknya, mereka dijatuhi sanksi degradasi ke kompetisi kasta ketiga usai pemain dan ofisial diduga terlibat pengaturan skor.

Terlepas dari itu, ledakan PKT dalam mengejutkan kompetisi sepak bola Tanah Air tak lepas dari peran para pemainnya yang cukup baik. Mereka juga acap kali mengorbitkan pemain muda berkualitas. Hal itu tak lepas dari kehadiran Diklat Mandau, akademi yang terus menyortir pemain muda Kalimantan. Lalu siapa saja pemain-pemain hebat yang membuat nama Bontang PKT sangat disegani?

1. Fakhri Husaini

Fakhri Husaini (9) (Instagram/@coachfakhri).

Tak salah jika PKT selalu diidentikan dengan nama Fakhri Husaini. Sebab, klub tersebut yang berhasil mengorbitkan namanya hingga menjadi pemain Timnas Indonesia. Menimba ilmu di Diklat Mandau, Fakhri akhirnya bisa sukses meraih prestasi gemilang bersama klub dan Timnas Indonesia.

Yang tak bisa dilupakan adalah penampilan gemilangnya saat membawa PKT tampil pada babak final Liga Indonesia jelang era milenium. Masa itu bisa dibilang jadi prestasi gemilang yang berhasil dipersembahkan oleh mantan pelatih Timnas U-16 dan U-19 ini bagi klubnya itu.

2. Sumardi

Sumardi kiper PKT. (Instagram/@iwan_ismantono).

Sumardi merupakan pemain yang layak disebut sebagai legenda PKT. Dia adalah pemain yang sangat setia bagi klub tersebut. Jam terbangnya yang tangguh sempat membawa PKT tampil trengginas pada medio 1990-2000. Hal itu pula yang mengantarkan namanya bisa memperkuat Timnas Indonesia pada masa itu.

Pemain yang punya ciri khas rambut kuncir ini justru semakin matang pada usia senja. Sempat hengkang ke Deltras, Persisam Putra, hingga kembali ke Bontang FC, Sumardi akhirnya gantung sepatu pada usia 41 tahun di Mitra Kukar.

3. Djet Donal La’ala

Djet Donal La’ala (kanan). (Instagram/@timnaslegend).

Djet Donald La’ala merupakan pemain kelahiran Binggai, Sulwasi Tenggara. Namun, bakat sepak bolanya tak diasah di kampung halaman, melainkan di Kota Palu bersama Persipal. Sukses menimba ilmu dengan klub tersebut, namanya mulai terendus dan direkrut PKT.

Perjudian mendatangkan Djet Donald ternyata berbuah hasil. Penampilan lugas pemain yang berposisi sebagai bek itu membuat PKT tampil kuat. Berkolaborasi dengan Fakhri, Djet Donald mampu membawa PKT menjadi runner up Liga Indonesia pada edisi 1999/2000.

Berbekal penampilan mengilap bersama PKT, Djet Donald akhirnya direkrut PSM dan setelah itu terus melanglang buana hingga berseragam Persija. Namun, baru pada usia 33 tahun dirinya baru bisa dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia.

4. Marthen Tao

Marthen Tao (10) paling kiri berdiri saat membela PKT Bontang Liga Indonesia Tahun 2000/2001

Marthen Tao merupakan pria kelahiran Sorong, 4 Maret 1979. Dibekali kemampuan dan skill yang dimiliki khas anak Papua, namanya diorbitkan bukan dari tanah kelahirannya, karena PKT di bawah Syamsudin Umar-lah yang mampu membuat pemain lincah ini diperhitungkan di kancah sepak bola Indonesia.

Marthen tercatat sebagai pemain yang lahir pada masa keemasan PKT di medio 1999/2000. Usai memperkuat klub tersebut selama empat musim, Marthen mencoba peruntungan dengan pindah ke Arema.

5. Ponaryo Astaman

Ponaryo Astaman merupakan nama lainnya yang lahir dari Diklat Mandau. Dia pun masuk dalam skuat terbaik PKT bersama Marthen Tao, Djet Donald, hingga Fakhri Husaini. Pemain kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 25 September 1979 itu menjelma menjadi salah satu legenda Timnas Indonesia.

Namanya mulai mencuat ketika membawa PKT Bontang menembus final Liga Indonesia 1999-2000. PKT memang gagal juara. Tapi, berkat penampilannya sebagai penopang eks kapten Timnas Indonesia, Fakhri Husaini, di lini tengah, Ponaryo dipanggil memperkuat Timnas Indonesia U-23 untuk Sea Games 2001 di Malaysia.

Dalam ajang itu, Timnas Indonesia U-23 berhasil menembus semifinal sebelum dikandaskan Thailand 1-2 lewat babak perpanjangan waktu. Seperti diketahui, Thailand akhirnya meraih medali emas setelah mengalahkan Malaysia 1-0 di laga final. Ponaryo beruntung sempat bermain satu tim dengan Fakhri pada awal karier profesionalnya.

“Bang Fakhri banyak memberi masukan kepada saya. Apalagi saat itu, statusnya adalah pemain sekaligus asisten pelatih. Saya banyak belajar darinya,” kata Ponaryo yang memulai petualangannya bermain di klub luar Kalimantan dengan menerima tawaran PSM Makassar pada 2003.

Momen yang paling tak bisa dilupakan oleh Ponaryo adalah ketika memperkuat Timnas Indonesia pada ajang Piala Asia 2004 silam. Pada masa itu pemain yang sempat berkarier di Malacca Telkom Malaysia berhasil mencetak gol cantik dan membawa Timnas Indonesia meraih kemenangan pertama pada ajang tersebut.

Nama-nama di atas adalah sebagian kecil deretan pemain top yang lahir dan besar di Bontang PKT. Kalian masih ada ingat nama-nama pemain lainnya? **

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }
content-ciaa-1212

Mix Parlay


yakinjp

yakinjp

JUDI BOLA ONLINE

rtp yakinjp

yakinjp

Togel Online Resmi

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

news

slot mahjong ways

judi bola online

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

11001

11002

11003

11004

11005

11006

11007

11008

12001

12002

12003

12004

12005

12006

12007

12008

12009

12010

20001

20002

20003

20004

20005

20006

20007

20008

20009

20010

30001

30002

30003

30004

30005

30006

30007

30008

30009

30010

10236

10237

10238

10239

10240

11010

11011

11012

11013

11014

11015

11017

11018

11019

12011

12012

12013

12014

12015

12016

12017

12018

12019

12020

20011

20012

20013

20014

20015

20016

20017

20018

20019

20020

30011

30012

30013

30014

30015

30016

30017

30018

30019

30020

11020

11021

11022

11023

11024

11025

11026

11027

11028

11029

11030

11031

11032

11033

11034

12021

12022

12023

12024

12025

12026

12027

12028

12029

12030

12031

12032

12033

12034

12035

20021

20022

20023

20024

20025

20026

20027

20028

20029

20030

20031

20032

20033

20034

20035

30021

30022

30023

30024

30025

30026

30027

30028

30029

30030

30031

30032

30033

30034

30035

9041

9042

9043

9044

9045

10196

10197

10198

10200

10201

10202

10203

10204

10205

11035

11036

11037

11038

11039

11040

11041

11042

11043

11044

30036

30037

30038

30039

30040

30041

30042

30043

30044

30045

10191

10192

10193

10194

10195

11045

11046

11047

11048

11049

11050

11051

11052

11053

11054

11055

11056

11057

11058

11059

12036

12037

12038

12039

12040

12041

12042

12043

12044

12045

12046

12047

12048

12049

12050

20036

20037

20038

20039

20040

20041

20042

20043

20044

20045

20046

20047

20048

20049

20050

30046

30047

30048

30049

30050

30051

30052

30053

30054

30055

30056

30057

30058

30059

30060

10176

10177

10178

10179

10180

11060

11061

11062

11063

11064

11065

11066

11067

11068

11069

11070

11071

11072

11073

11074

12051

12052

12053

12054

12055

12056

12057

12058

12059

12060

20051

20052

20053

20054

20055

30061

30062

30063

30064

30065

30066

30067

30068

30069

30070

10086

10087

10088

10089

10090

10091

10092

10093

10094

10095

10096

10097

10098

10099

10100

11000

11001

11002

11003

11004

11005

11006

11007

11008

11009

20056

20057

20058

20059

20060

20061

20062

20063

20064

20065

30071

30072

30073

30074

30075

30076

30077

30078

30079

30080

30081

30082

30083

30084

30085

30086

30087

30088

30089

30090

content-ciaa-1212