Laporan Karhutla Bontang Lestari Tak Lagi Tiap Hari, Kini Sekitar Tiga Kali Sepekan 

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
14 Sep 2026 13:40
2 menit membaca

NEWSBORNEO.ID – Laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bontang Lestari mulai berkurang sejak posko bersama penanganan karhutla dibentuk untuk memantau kondisi selama musim kemarau.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang, Sunaryo, mengatakan sebelum adanya posko, laporan kebakaran lahan hampir muncul setiap hari dalam sepekan.

Namun, selama pemantauan melalui posko bersama, frekuensi laporan mulai menurun. Saat ini, laporan yang diterima petugas sekitar tiga kali dalam sepekan di sekitar wilayah Kelurahan Bontang Lestari.

“Sekarang sudah berkurang, dalam seminggu sekitar tiga kali laporan. Sebelumnya hampir tiap hari ada,” kata Sunaryo saat ditemui, Senin (14/9/2026).

Posko bersama menjadi salah satu upaya memperkuat pemantauan karhutla di tengah kondisi kemarau panjang. Personel yang terlibat dapat lebih cepat mengetahui apabila terdapat titik kebakaran dan melakukan penanganan sebelum api meluas.

Pemantauan dilakukan secara bersama dengan melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan), TNI, serta kepolisian.

Sunaryo mengatakan meski jumlah laporan mulai berkurang, kondisi tersebut tidak membuat petugas mengendurkan kesiapsiagaan. Posko masih menjadi bagian dari pemantauan karhutla yang dilakukan hingga akhir September.

“Selama pemantauan ini kami tetap bersama tim gabungan. Jadi kalau ada kebakaran lahan, langsung kami koordinasikan untuk penanganannya,” ujarnya.

Fokus utama pemantauan adalah mencegah api berkembang dari lahan terbuka dan menjalar ke kawasan permukiman. Hal itu dinilai penting karena kondisi lahan yang kering selama musim kemarau membuat api berpotensi lebih cepat meluas.

Karena itu, personel gabungan tetap disiagakan untuk merespons laporan yang masuk sekaligus memastikan kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.

“Kami ingin jangan sampai kebakaran yang awalnya hanya di lahan kemudian merembet ke pemukiman. Selama kemarau panjang ini, kewaspadaan tetap kami jaga,” pungkasnya. (ADV)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }