Setelah hampir dua pekan tanpa pasokan air bersih, ratusan warga turun ke jalan dan memblokade akses utama kawasan tersebut sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan gangguan distribusi air oleh Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Selasa (23/6/2026).Balikpapan – Kesabaran warga Kampung Buton, Kelurahan Damai Bahagia, Balikpapan Selatan, akhirnya mencapai batas. Setelah hampir dua pekan tanpa pasokan air bersih, ratusan warga turun ke jalan dan memblokade akses utama kawasan tersebut sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan gangguan distribusi air oleh Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Selasa (23/6/2026).
Sejak pagi sekitar pukul 09.00 WITA, warga memadati Jalan Kampung Buton dan menutup akses kendaraan roda dua maupun roda empat. Aksi spontan ini membuat aparat dari Polsek Balikpapan Selatan dan Polresta Balikpapan turun tangan untuk mengamankan situasi sekaligus mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar gangguan layanan, melainkan telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketiadaan air bersih selama berhari-hari memaksa banyak keluarga mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air tandon demi memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
“Ini bukan daerah pegunungan, jalannya datar. Kalau memang ada kerusakan, kenapa sampai 10 hari lebih belum selesai juga? Selama itu apa yang dikerjakan?” keluh Masniah, salah seorang warga yang ikut dalam aksi.
Menurutnya, beban ekonomi warga semakin berat karena harus terus membeli air bersih dengan harga yang tidak murah.
“Kami sudah beli air tandon berkali-kali. Satu tandon Rp120 ribu. Kalau terus begini, kami tidak sanggup. Kami ini masyarakat biasa, bukan orang kaya,” ujarnya.
Kekecewaan serupa disampaikan Fahmi, warga lainnya yang mengaku hingga kini belum mendapatkan kepastian kapan distribusi air akan kembali normal.
“Petugas memang datang, tetapi penjelasan yang diberikan belum memberikan kepastian. Yang dibutuhkan warga sekarang adalah solusi, bukan sekadar pengecekan,” katanya.
Menurut Fahmi, bantuan air bersih menggunakan mobil tangki yang dikirim PTMB masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan warga terdampak.
“Mobil tangki hanya datang beberapa kali dan pembagiannya menurut kami belum merata. Banyak warga yang masih kesulitan mendapatkan pasokan air,” ungkapnya.
Ia menyebut sedikitnya enam RT terdampak gangguan distribusi, yakni RT 22, RT 23, RT 24, RT 41, RT 42, serta satu RT lainnya di kawasan Kampung Buton.
“Sudah hampir dua minggu air tidak mengalir. Di daerah lain biasanya paling lama tiga sampai lima hari, tapi di sini sudah lebih dari seminggu bahkan hampir dua minggu,” tambahnya.
Situasi akhirnya mencair setelah perwakilan warga dipertemukan dengan pihak terkait sekitar pukul 13.00 WITA. Pertemuan tersebut dihadiri Kabag Ops Polresta Balikpapan Kompol Jajat Sudrajat, Lurah Damai Bahagia Hikmatullah Hardian, serta manajemen PTMB yang diwakili Manajer Distribusi Indra Gunawan dan Direktur Operasi Ali Rachman.
Dalam dialog tersebut, PTMB menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat sekaligus memastikan proses perbaikan jaringan sedang berlangsung. Namun warga memberikan ultimatum tegas: jika hingga malam hari air masih belum mengalir, aksi penutupan jalan akan kembali dilakukan.
Menanggapi keluhan warga, Manajer Distribusi PTMB Indra Gunawan menjelaskan bahwa pihaknya sempat mengalami kesulitan menemukan sumber gangguan karena kebocoran terjadi di titik yang tidak terdeteksi pada tahap awal.
“Setelah dilakukan penelusuran bertahap menggunakan alat khusus, akhirnya ditemukan kebocoran pada pipa berdiameter 200 milimeter. Kebocoran inilah yang menyebabkan pasokan air ke sejumlah wilayah hilang,” jelasnya.
Menurut Indra, proses perbaikan kini telah memasuki tahap akhir setelah bagian pipa yang rusak dipotong dan disiapkan untuk penyambungan kembali.
“Kami memahami keluhan masyarakat dan memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Saat ini pekerjaan masih berlangsung dan kami berharap distribusi air bisa kembali normal secepatnya,” katanya.
Meski telah menerima penjelasan dari PTMB, warga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Mereka meminta perusahaan lebih terbuka dalam menyampaikan informasi kepada pelanggan, terutama saat terjadi gangguan yang berdampak luas.
“Yang kami inginkan sederhana, air kembali mengalir dan ada kepastian informasi kepada warga. Jangan sampai masyarakat harus turun ke jalan dulu baru mendapat penjelasan,” tegas Fahmi.
Aksi protes ini menjadi sinyal kuat bahwa pelayanan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditunda. Warga kini menunggu realisasi janji PTMB untuk memulihkan distribusi air setelah hampir dua pekan mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. (*)
Tidak ada komentar