Konservasi Terumbu Karang Bontang Mendunia, Pupuk Kaltim Tampil di ICRS 2026

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
3 Agu 2026 22:29
3 menit membaca

Jakarta – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) membawa pengalaman panjang dalam merestorasi ekosistem terumbu karang di Kota Bontang ke panggung internasional melalui 16th International Coral Reef Symposium (ICRS) 2026 yang digelar di Auckland, Selandia Baru.

Pada forum ilmiah bergengsi tersebut, Pupuk Kaltim menjadi satu-satunya perwakilan sektor industri Indonesia yang mendapat kesempatan mempresentasikan praktik konservasi laut berkelanjutan di hadapan ribuan peneliti, akademisi, pemerintah, dan praktisi lingkungan dari berbagai negara.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, mengatakan partisipasi perusahaan dalam ICRS 2026 merupakan wujud nyata komitmen menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui program konservasi ekosistem laut yang dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat pesisir.

“Keikutsertaan ini menunjukkan bahwa inisiatif keberlanjutan yang lahir dari operasional perusahaan mampu memberikan kontribusi nyata sekaligus memperoleh pengakuan dari komunitas global,” ujar Anggono dalam keterangannya, Ahad (2/8/2026).

Menurutnya, Pupuk Kaltim memanfaatkan forum tersebut untuk membagikan pengalaman selama 15 tahun menjalankan restorasi terumbu karang di kawasan Tebok Batang, Kota Bontang. Program itu menjadi salah satu kontribusi perusahaan dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 14, yakni Life Below Water yang berfokus pada perlindungan ekosistem laut.

“Kami percaya masa depan ekosistem laut tidak dapat dijaga oleh satu pihak saja. Karena itu, Pupuk Kaltim akan terus bergandeng tangan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan sumber daya laut tetap lestari dan terjaga,” katanya.

Bawa Dua Karya Ilmiah

Delegasi Pupuk Kaltim, Astri Agustina, mengungkapkan bahwa perusahaan mempresentasikan dua karya ilmiah dalam forum yang dihadiri lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara tersebut.

Kedua karya itu terdiri atas presentasi oral berjudul Quindecennial Consecutively Collaborative Coral Restoration dan poster ilmiah bertajuk Integration Coral Restoration through Long-Term Stakeholder Engagement and its Independence Governance.

Menurut Astri, kedua karya tersebut menggambarkan pendekatan komprehensif yang diterapkan Pupuk Kaltim dalam mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, tata kelola, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir dalam program restorasi terumbu karang.

“Dua karya tersebut mengangkat bagaimana restorasi terumbu karang dapat berjalan berkelanjutan melalui kolaborasi jangka panjang dengan berbagai pemangku kepentingan,” jelasnya.

Pulihkan Terumbu Karang Lewat Kolaborasi

Program rehabilitasi yang dijalankan sejak 2011 berawal dari tingginya tingkat kerusakan terumbu karang di perairan Bontang yang mencapai lebih dari 50 persen akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Sebagai langkah pemulihan, Pupuk Kaltim membangun berbagai modul terumbu buatan serta melakukan transplantasi karang dengan melibatkan masyarakat pesisir, kelompok nelayan, serta pemantauan kondisi ekologi dan sosial secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, perusahaan mengembangkan tiga tipe struktur terumbu buatan, yakni Pyramid, Cube, dan Dome, yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan karang sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi.

“Model tersebut terbukti efektif mendukung penempelan karang dan meningkatkan keanekaragaman hayati selama 15 tahun pelaksanaan program di Tebok Batang,” ujar Astri.

Keanekaragaman Hayati Terus Meningkat

Hingga 2025, kawasan konservasi yang dikelola Pupuk Kaltim telah mencapai 2,23 hektare dari total izin Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) seluas 10 hektare.

Program tersebut juga berhasil meningkatkan kekayaan hayati dengan tercatat 57 familia ikan karang serta 69 genus karang yang kini menghuni kawasan konservasi.

Lebih dari sekadar pemulihan lingkungan, kawasan Tebok Batang berkembang menjadi model konservasi berbasis kolaborasi yang turut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemberdayaan kelompok nelayan dan penguatan ekonomi lokal.

Menurut Astri, keberhasilan restorasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada konsistensi pemantauan serta kemampuan melakukan evaluasi dan penyesuaian pengelolaan berdasarkan kondisi di lapangan.

Perkuat Program Konservasi

Ke depan, Pupuk Kaltim berkomitmen memperluas program konservasi melalui pengembangan coral nursery, pelestarian padang lamun, serta memperkuat kerja sama internasional guna mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.

“Melalui ICRS 2026, kami ingin menunjukkan bahwa sektor industri dapat mengambil peran strategis dalam mendukung konservasi laut secara berkelanjutan. Pengalaman di Tebok Batang diharapkan dapat menjadi referensi dan direplikasi oleh berbagai pihak dalam upaya menjaga kelestarian ekosistem laut,” tutup Astri. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }