Oplus_131072BONTANG – Tak ada yang menyangka kunjungan H. Umar Amrullah Tanatta ke lahan miliknya di Bukit Kusnodo menjadi momen terakhir yang menyimpan sebuah pesan mendalam.
Sehari sebelum mengembuskan napas terakhir, mantan Ketua DPRD Kota Bontang itu berdiri di atas tanah yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Dalam kondisi yang tampak sehat, ia menyampaikan sebuah keinginan sederhana kepada keluarga: apabila kelak meninggal dunia, ia ingin dimakamkan di tempat tersebut.
Ucapan itu semula dianggap sebagai percakapan biasa. Namun, takdir berkata lain.
Pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.00 Wita, H. Umar Amrullah Tanatta berpulang di RSUD Taman Husada Bontang setelah menjalani perawatan sejak Jumat pagi karena mengeluhkan kondisi kesehatannya.
Keinginan yang disampaikannya sehari sebelumnya pun menjadi wasiat terakhir yang dipenuhi keluarga.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, yakni seorang istri, lima anak, delapan cucu, serta masyarakat Kota Bontang yang mengenalnya sebagai tokoh berpengaruh dalam perjalanan pembangunan daerah.
Bagi Bontang, nama Umar Amrullah bukanlah sosok yang asing. Ia pernah memimpin DPRD Kota Bontang pada periode 2004–2009, masa penting ketika kota tersebut mulai menata arah pembangunan setelah berpisah dari Kabupaten Kutai Kartanegara.
Semasa memimpin, almarhum dikenal sebagai figur yang mampu merangkul berbagai kalangan dan menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Beliau adalah sosok pemersatu yang selalu menciptakan kedamaian antar-suku di Bontang,” ujar Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, saat melayat ke rumah duka di Kelurahan Loktuan.
Menurut Agus Haris, kepemimpinan Umar Amrullah meninggalkan jejak penting dalam pembangunan daerah, sekaligus menjadi teladan dalam membangun kebersamaan.
“Di era beliau memimpin DPRD, pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat. Kita kehilangan seorang figur penyejuk yang luar biasa,” katanya.
Kini, H. Umar Amrullah Tanatta telah beristirahat di Bukit Kusnodo, tempat yang sehari sebelumnya ia tunjuk sendiri sebagai peristirahatan terakhirnya. Sebuah wasiat yang menjadi penutup perjalanan hidup seorang tokoh yang telah mengabdikan diri bagi masyarakat Bontang. (*)
Tidak ada komentar