APBD Bontang Anjlok Jadi Rp1,5 Triliun, Neni Pastikan Bantuan Warga Tetap JalanBONTANG – Pemerintah Kota Bontang menghadapi tekanan fiskal setelah postur APBD mengalami penyesuaian drastis, dari sekitar Rp3 triliun menjadi Rp1,5 triliun.
Meski ruang fiskal menyempit akibat penurunan dana transfer dan Dana Bagi Hasil (DBH) sektor sumber daya alam, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memastikan program perlindungan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tetap menjadi prioritas.
Hal itu disampaikan Neni saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangkaian kegiatan “Bontang Lestari Bersholawat” di halaman Kantor Lurah Bontang Lestari, Sabtu (12/9/2026) malam.
Di hadapan ratusan jemaah dan tokoh masyarakat, Neni menjelaskan kondisi keuangan daerah sekaligus memastikan penyesuaian anggaran tidak serta-merta mengorbankan hak masyarakat.
“Meskipun APBD Kota Bontang mengalami penyesuaian dari Rp3 triliun menjadi Rp1,5 triliun akibat penurunan dana transfer dan Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor sumber daya alam, Pemerintah Kota Bontang tetap berkomitmen menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama,” jelas Neni.
Menurutnya, sejumlah program yang menyentuh langsung kehidupan warga tetap dipertahankan.
Di antaranya insentif Rp2 juta per bulan bagi tokoh agama lintas iman, insentif Rp1 juta per bulan bagi kader posyandu, serta bantuan tunai Rp300 ribu bagi kelompok rentan yang tercatat dalam DTKS.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Bontang menjaga daya tahan masyarakat di tengah kondisi fiskal yang semakin terbatas.
Selain membahas kondisi ekonomi daerah, Neni juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam menjaga generasi muda.
Ia mengajak para orang tua memperkuat pengawasan terhadap anak, terutama menghadapi pengaruh penggunaan gawai dan pergaulan yang dinilai dapat memengaruhi perkembangan moral generasi muda.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat agar lingkungan tumbuh kembang anak tetap sehat.
Sementara itu, kegiatan Bontang Lestari Bersholawat yang digelar selama 41 hari berturut-turut mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.
Kegiatan keagamaan tersebut dinilai tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan dan menjaga kondusivitas sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah.
Neni juga menyampaikan capaian pemerintah daerah di sejumlah sektor, termasuk layanan kesehatan, lingkungan dan inovasi ketenagakerjaan berbasis digital.
Namun, agenda tersebut tidak berlangsung lama. Neni harus meninggalkan lokasi lebih awal untuk menghadiri Rapat Paripurna DPRD terkait APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026.
Sebelum meninggalkan acara, Neni berpesan kepada masyarakat agar terus menjaga persatuan serta ikut mendukung pembangunan Kota Bontang. (*)
Tidak ada komentar