Mengenal M Noor, Pelopor Infrastruktur Kalimantan yang Tak Banyak Orang Tahu

Suriadi Said
26 Mei 2025 14:15
4 menit membaca

KALTIM – Dialah Pangeran Mohammad Noor, yang menjadi satu-satunya tokoh Kalimantan, yang beberapa waktu lalu telah diresmikan oleh Presiden RI sebagai pahlawan nasional. Pangeran Mohammad Noor merupakan bangsawan Kesultanan Banjar yang lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, 24 Juni 1901. Dalam keberadaannya Noor punya jasa besar tatkala ditunjuk menjadi gubernur pertama Kalimantan yang kala itu masih disebut Borneo.

Dikutip melalui Historia, sejarawan Sulawesi Selatan menyebut bahwa Noor merupakan gubernur pertama yang memiliki andil juga jasa besar dalam mempersatukan pejuang di Kalimantan.

Dalam keberadaannya, Noor tidaklah sulit untuk mengenyam pendidikan di zaman kolonial, sebab kehadirannya sebagai seorang bangsawan membuatnya berhak mendapat bangku pendidikan yang baik. Diketahui bahwa Noor berkuliah di Technische Hooge School di Bandung. Di sana Noor mendalami teknik lingkungan.

Tak hanya itu ia pun aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond (Ikatan Pemuda Islam). Di tahun 1927 ia pun berhasil meraih gelar insinyur sipil dan menjadi orang Kalimantan pertama yang memiliki predikat sarjana.

Sebelumnya, Noor sempat menjadi pegawai kolonial dan lama menghabiskan waktunya di tanah Jawa sebagai teknokrat. Setelah lulus kulia, ia diangkat sebagai insinyur sipil pada Departement Verkeer dan Waterstaat yang menangani persoalan irigasi di Tegal.

Ir Pangeran Mohammad Noor (kanan) © Muhammad Ramli Arisno

Lalu tahun 1929 ia dimutasi ke Malang kemudian Batavia dan pada 1933 ia kembali ke Banjarmasin. Di sana, selain mendedikasian keahliannya dalam membenahi irigasi, Noor juga terjun ke politik sebagai anggota Dewan Rakyat Hindia, Voolkraad, menggantikan posisi ayahnya, Pangeran Ali.

Memasuki masa pendudukan Jepang, Noor diketahui menetap di Bondowoso dan mengemban tugas sebagai Kepala Irigasi Pakalem-Sampean. Lalu di awal 1945 ia diangkat menjadi wakil Sumbucho.

Sebagai bagian dari tokoh kemerdekaan Indonesia, jejak Noor hadir saat dirinya menjadi salah satu anggota BPUKI. Ia mewakili wilayah Kalimantan. Tepat saat Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemedekaan Indonesia, Noor kemudian ditunjuk menjadi Gubernur Kalimantan.

Disebutkan pula bahwa satu-satunya gubernur pertama yang bukan orang Soekarno ialah Mohammad Noor. Sebab Noor rupanya lebih dekat dengan Bung Hatta ketimbang Soekarno.

Menariknya, meski menjabat sebagai gubernur Kalimantan namun untuk sementara waktu ia berkantor di Jakarta. Sebab menjadi gubernur saat kondisi revolusi tengah bergolak tentu bukanlah perkara mudah. Apalagi di Kalimantan sedang terjadi keadaan yang cukup pelik.

Saat itu infrastruktur dan fasilitas yang menunjang roda pemerintahan sangat terbatas. Lebih lagi, Belanda masih berniat untuk kembali berkuasa di Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam. Persoalan semakin bertambah sebab Kalimantan memiliki kelompok sosial yang beragam dengan kepentingan yang beragam pula. Tak sedikit kelompok-kelompok tersebut cenderung menerima Belanda kembali.

Noor sendiri menjadi sukar untuk menjangkau daerah yang dipimpinnya. Bahkan situasi yang tidak kondusif praktis membuatnya tak berada di Kalimantan selama revolusi. Ia pun memerintah dari Yogyakarta, yang kemudian ia turut merangkap sebagai penasihat presiden dalam Dewan Pertimbangan Agung.

Ir Pangeran Mohammad Noor | Sumber dok: Muhammad Ramli Arisno

Di masa kepemimpinannya, kebijakan Noor yang paling terkenal ialah terkait pembentukan elite MN 100 (Mohammad Noor 1001). Mereka berasal dari pemuda-pelajar Kalimantan yang dipersiapkan untuk terjun ke Palagan Kalimantan. Pasukan MN 1001 sendiri merupakan kekuatan revolusi terbesar kedua setelah ALRI Divisi IV Kalimantan. Komandannya pun ialah seorang putra Dayak yakni Tjilik Riwut.

Melalui MN 1001, Noor kemudian mencetus gagasan pasukan payung (para troops) untuk menembus blokade laut Belanda di Kalimantan. Pada 1974, Noor menginisiasi pembentukan armada ALRI Divisi IV yang dipimpin oleh Kolonel Zakaria Madun yang lalu diteruskan Hassan Basry.

Noor juga menerbitkan majalah Mimbar Indonesia, yang mana segmen pembacanya ialah rakyat Indonesia yang berada di daerah pendudukan Belanda. Media ini kemudian berperan besar dalam menggaungkan seruan integrasi Republik dan menolak konsep negara federal warisan Belanda.

Jabatan gubernur pun disandangnya hingga tahun 1950. Di 1956-1959 Noor sempat menjadi Menteri Pekerjaan Umum era Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Di masa Orde Baru hingga akhir hayatnya ia berkhidmat menjadi wakil rakyat Kalimantan dalam DPR/MPR.

Mohammad Noor pun diketahui menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, 15 Januari 1979. Ia dimakamkan di Komplek Pemakaman Sultan Adam, Martapura, Kalimantan Selatan. [RED]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

cuaca 898100136

cuaca 898100137

cuaca 898100138

cuaca 898100139

cuaca 898100140

cuaca 898100141

cuaca 898100142

cuaca 898100143

cuaca 898100144

cuaca 898100145

cuaca 898100146

cuaca 898100147

cuaca 898100148

cuaca 898100149

cuaca 898100150

cuaca 898100151

cuaca 898100152

cuaca 898100153

cuaca 898100154

cuaca 898100155

cuaca 898100156

cuaca 898100157

cuaca 898100158

cuaca 898100159

cuaca 898100160

cuaca 898100161

cuaca 898100162

cuaca 898100163

cuaca 898100164

cuaca 898100165

cuaca 898100166

cuaca 898100167

cuaca 898100168

cuaca 898100169

cuaca 898100170

cuaca 898100171

cuaca 898100172

cuaca 898100173

cuaca 898100174

cuaca 898100175

article 710000151

article 710000152

article 710000153

article 710000154

article 710000155

article 710000156

article 710000157

article 710000158

article 710000159

article 710000160

article 710000161

article 710000162

article 710000163

article 710000164

article 710000165

article 710000166

article 710000167

article 710000168

article 710000169

article 710000170

article 710000171

article 710000172

article 710000173

article 710000174

article 710000175

article 710000176

article 710000177

article 710000178

article 710000179

article 710000180

article 710000181

article 710000182

article 710000183

article 710000184

article 710000185

article 710000186

article 710000187

article 710000188

article 710000189

article 710000190

article 710000191

article 710000192

article 710000193

article 710000194

article 710000195

article 710000196

article 710000197

article 710000198

article 710000199

article 710000200

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

psda 438000066

psda 438000067

psda 438000068

psda 438000069

psda 438000070

psda 438000071

psda 438000072

psda 438000073

psda 438000074

psda 438000075

psda 438000076

psda 438000077

psda 438000078

psda 438000079

psda 438000080

psda 438000081

psda 438000082

psda 438000083

psda 438000084

psda 438000085

psda 438000086

psda 438000087

psda 438000088

psda 438000089

psda 438000090

psda 438000091

psda 438000092

psda 438000093

psda 438000094

psda 438000095

psda 438000096

psda 438000097

psda 438000098

psda 438000099

psda 438000100

psda 438000101

psda 438000102

psda 438000103

psda 438000104

psda 438000105

psda 438000106

psda 438000107

psda 438000108

psda 438000109

news-1701