Kasus ISPA di Balikpapan Turun Jadi 6.157 pada Oktober, Dinkes Tetap Waspadai Dampak Polusi Udara

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
26 Okt 2026 17:43
Warta 0
3 menit membaca

BALIKPAPAN — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Balikpapan tercatat menurun pada Oktober 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan tetap mengingatkan masyarakat agar waspada karena kualitas udara masih mengalami fluktuasi.

Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, mengatakan hingga Oktober 2026 tercatat 6.157 kasus ISPA. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan catatan pada September yang mencapai sekitar 7.772 kasus.

Menurut Alwiati, dinamika indeks standar pencemar udara (ISPU) yang sempat menunjukkan kondisi mengkhawatirkan belum diikuti peningkatan kasus ISPA berdasarkan data yang disampaikan Dinkes.

“Alhamdulillah di Kota Balikpapan, walaupun kita lihat data ISPU mengalami situasi naik turun, namun ini tidak diikuti dengan peningkatan kasus ISPA,” kata Alwiati, Senin (26/10/2026).

Ia menilai kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan menjadi salah satu hal penting di tengah kondisi udara yang kurang baik. Masyarakat diimbau terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

“Artinya masyarakat di Kota Balikpapan sudah menyadari dengan adanya ISPU ini. Masyarakat sudah melakukan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga kasus ISPA tidak meningkat,” ujarnya.

Dinkes juga menilai kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama periode memburuknya kualitas udara turut membantu mengurangi paparan polusi, terutama bagi anak-anak yang biasanya beraktivitas di luar ruangan untuk berangkat dan pulang sekolah.

“Penggunaan masker juga sangat diharapkan. Sumbangsih dari adanya PJJ selama masa ISPU yang tinggi juga memberikan dampak yang baik bagi kesehatan, terutama pada anak-anak kita,” katanya.

Selain anak-anak, kelompok rentan seperti lanjut usia juga menjadi perhatian. Dinkes mengimbau mereka menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. Warga usia produktif juga diminta tidak mengabaikan perlindungan diri, terutama jika memiliki aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Alwiati turut mengajak perusahaan di Balikpapan berpartisipasi dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat, salah satunya melalui bantuan masker.

“Kami mengimbau perusahaan-perusahaan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat, dalam hal ini bantuan masker, supaya masyarakat lebih disiplin menggunakan masker, terutama pada saat di luar ruangan,” ujarnya.

Warga bergejala ISPA diminta segera berobat

Selain mengingatkan pentingnya pencegahan, Dinkes Balikpapan meminta warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Alwiati menjelaskan, masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan sesuai ketentuan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk melalui BPJS Kesehatan, untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang diperlukan.

“Kalau ada yang merasa sakit, silakan langsung ke fasilitas kesehatan menggunakan kartu BPJS atau kartu JKN-nya untuk berobat,” kata Alwiati.

Pemeriksaan sejak dini diperlukan agar kondisi pasien dapat segera dievaluasi dan ditangani, terutama apabila gejala berkembang menjadi lebih berat, seperti pneumonia.

Alwiati menyebut Dinkes belum menemukan kasus pneumonia maupun kematian yang berkaitan dengan situasi peningkatan ISPA akibat kualitas udara dalam konteks yang dibahas.

“Belum, alhamdulillah. Belum ada juga kasus kematian,” ujarnya.

Meski jumlah kasus ISPA yang dilaporkan menurun, masyarakat tetap diminta waspada. Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan pernapasan menjadi langkah pencegahan yang terus ditekankan Dinkes.

Penurunan jumlah kasus yang dilaporkan dari sekitar 7.772 pada September menjadi 6.157 pada Oktober menjadi perkembangan yang patut dicermati. Namun, untuk memastikan tren dan penyebab perubahan tersebut, data perlu terus dipantau bersama kondisi kualitas udara dan faktor kesehatan lainnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }