Asap Karhutla Kalteng Diduga Terbawa ke Berau, Edi Pasaribu Desak Penanganan Lebih Serius

Avatar photo
Redaksi Newsborneo
3 Sep 2026 17:29
3 menit membaca

TANJUNG REDEB – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan kembali menjadi perhatian. Dampaknya bahkan dirasakan masyarakat Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).

Anggota Komisi II DPR RI dari daerah pemilihan Kaltim, Edi Oloan Pasaribu, memastikan akan ikut mengawasi langkah pemerintah dalam menangani karhutla sekaligus dampak asap yang dirasakan masyarakat.

Edi mengakui pemerintah pusat telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani karhutla. Namun, menurutnya, berbagai upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi kondisi asap yang masih dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Berau.

Ia menilai persoalan kabut asap di Berau perlu ditelusuri secara menyeluruh. Salah satu yang perlu dipastikan adalah kemungkinan asap berasal dari kebakaran di wilayah lain dan terbawa angin hingga memasuki Kaltim.

“Pemerintah pusat saat ini memang sedang memprioritaskan penanganan secara serius. Tentunya kita apresiasi apa yang sudah dikerjakan pemerintah pusat, walaupun sekarang ini belum mengurangi kondisi yang ada di Berau,” ujar Edi.

Sebagai wakil masyarakat Kaltim di DPR RI, Edi mengatakan dirinya akan kembali melakukan pemantauan setelah agenda DPR RI kembali aktif.

Ia juga berencana meminta pembaruan informasi terkait perkembangan karhutla, kondisi kualitas udara, serta langkah penanganan yang dilakukan pemerintah di wilayah dapilnya.

“Saya sebagai perwakilan DPR RI nanti, mungkin minggu depan sudah aktif, saya akan sampaikan dan saya akan cek update terkini seperti apa, khususnya apa yang didapat di dapil saya,” katanya.

Kalteng Disebut Lebih Parah

Edi juga menyinggung kondisi karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang berdasarkan informasi yang diterimanya disebut lebih parah dibandingkan wilayah lain.

Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian karena dampak karhutla tidak mengenal batas administratif. Asap dari wilayah yang mengalami kebakaran dapat bergerak mengikuti arah angin dan berdampak ke daerah lain.

“Informasi terakhir yang saya dapat, Kalteng itu lebih parah. Saya baru sebentar di sini, tetapi kena juga di sini. Apakah ini di Berau atau efek dari provinsi tetangga, itu yang perlu kita lihat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak kabut asap mendapat perlindungan dan bantuan yang memadai.

Menurut Edi, kebutuhan dasar warga di tengah kondisi karhutla juga harus menjadi perhatian. Salah satunya penyediaan masker untuk mengurangi paparan asap serta bantuan air bersih bagi masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan.

“Saya juga sudah menyampaikan kepada pihak-pihak tertentu yang menangani agar serius, termasuk memberikan masker dan bantuan air ketika ada wilayah yang airnya kering,” pungkasnya.

Edi menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas daerah dan lintas instansi. Terlebih, ketika dampak kebakaran sudah dirasakan masyarakat di luar wilayah sumber api.

Bagi masyarakat Berau, persoalan bukan lagi sekadar di mana api berkobar, tetapi bagaimana pemerintah memastikan asap tidak terus menjadi ancaman bagi kesehatan dan aktivitas warga. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@media print { .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } } .c-float-ad-left { display: none !important; } .c-float-ad-right { display: none !important; } .c-author { display: none !important; } .c-also-read { display: none !important; } .single-post figure.post-image { margin: 30px 0 25px; } #pf-content img.mediumImage, #pf-content figure.mediumImage { display: none !important; }